Hasil Pencarian

Pencarian

Senin, 11 Agustus 2008

maccera tappareng ritual menghormati mahluk penghuni danau tempe



Danau Tempe terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo. Tepatnya di Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae. Dari sungai ini, perjalanan ke Dananu Tempe dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor (katinting). Perkampungan nelayan bernuansa Bugis berjejer di sepanjang tepi danau. Nelayan yang menangkap ikan di tengah danau seluas 13.000 hektare itu dengan latar belakang rumah terapung, merupakan pemandangan yang sangat menarik. Dari ketinggian, Danau Tempe tampak bagaikan sebuah baskom raksasa yang diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap.
Sambil bersantai di atas perahu, wisatawan dapat menyaksikan terbitnya matahari di ufuk Timur pada pagi hari dan terbenam di ufuk Barat pad sore hari. Di tengah danau, kita dapat menyaksikan beragam satwa burung, bungan dan rumput air, serta burung Belibis (Lawase, bahasa Bugis) menyambar ikan-ikan yang muncul di atas permukaan air. Danau Tempe memiliki species ikan air tawar yang jarang ditemui ditempat lain. Konon, dasar danau ini menyimpan sumber makanan ikan, yang diperkirakan ada kaitannya letak danau yang berada di atas lempengan dua benua, yaitu Australia dan Asia. Di waktu malam, wisatawan dapat menginap di rumah terapung. Bersama nelayan, kita dapat menyaksikan rembulan di malam hari yang menerangi Danau Tempe sambil memancing ikan. Sementara itu, para nelayan menangkap ikan diiringi dengan musik tradisional yang dimainkan penduduk. Tanggal 23 Agustus setiap tahunnya, merupakan kalender kegiatan pelaksanaan festival laut di Danau Tempe.


Setiap tanggal 23 Agustus diadakan festival laut di Danau Tempe.Acara pesta ritual nelayan ini disebut Maccera Tappareng atau upacara mensucikan danau yang ditandai dengan pemotongan sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan yang diikuti berbagai atraksi wisata yang sangat menarik. Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera Tappareng berpakai Baju Bodo (pakaian adat Orang Bugis). Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu hias, lomba permainan rakyat (lomba layangan tradisional, pemilihan anak dara dan kallolona Tanah Wajo), lomba menabuh lesung (padendang), pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya.

Acara pesta ritual nelayan ini disebut Maccera Tappareng atau upacara mensucikan danau dengan menggelar berbagai atraksi wisata yang sangat menarik. Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera Tappareng berpakai Baju Bodo (pakaian adat Orang Bugis). Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu hias, lomba permainan rakyat (lomba layangan tradisional, pemilihan anak dara dan kallolona Tanah Wajo), lomba menabuh lesung (padendang), pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya. Lomba perahu dayung merupakan tradisi yang turun temurun dan terpelihara di kalangan para nelayan. Sedangkan Maccera Tappareng merupakan bentuk kegiatan ritual yang dilaksanakan di atas Danau Tempe oleh masyarakat yang berdomisili di pinggir Danau Tempe, biasanya ditandai dengan pemotongan kurban/sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan, dan serentetan acara lainnya.

Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang
menjadi habitat satwa burung. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur
yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. Pengunjung dapat
berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke
Sungai Walanae, mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di
tengah danau.

Danau Tempe terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo. Tepatnya di
Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae.
Dari sungai ini, perjalanan ke Dananu Tempe dapat ditempuh sekitar 30 menit
dengan menggunakan perahu motor (katinting). Perkampungan nelayan bernuansa
Bugis berjejer di sepanjang tepi danau. Nelayan yang menangkap ikan di tengah
danau seluas 13.000 hektare itu dengan latar belakang rumah terapung, merupakan
pemandangan yang sangat menarik.

Dari ketinggian, Danau Tempe tampak
bagaikan sebuah baskom raksasa yang diapit
oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan
Sidrap. Sambil bersantai di atas perahu,
wisatawan dapat menyaksikan terbitnya
matahari di ufuk Timur pada pagi hari dan
terbenam di ufuk Barat pad sore hari. Di
tengah danau, kita dapat menyaksikan beragam
satwa burun seperti Belibis yang menyambar
ikan-ikan yang muncul di atas permukaan air.


Danau ini memiliki species ikan air tawar yang jarang ditemui ditempat lain.
Konon, dasar danau ini menyimpan sumber makanan ikan, yang diperkirakan ada
kaitannya letak danau yang berada di atas lempengan dua benua, yaitu Australia
dan Asia. Di waktu malam, wisatawan dapat menginap di rumah terapung. Bersama
nelayan, kita dapat menyaksikan rembulan di malam hari yang menerangi Danau
Tempe sambil memancing ikan.
Sementara itu, para nelayan menangkap ikan diiringi dengan musik tradisional
yang dimainkan penduduk. Tanggal 23 Agustus setiap tahunnya, merupakan kalender
kegiatan pelaksanaan festival laut di Danau Tempe. Acara pesta ritual nelayan ini
disebut Maccera Tappareng atau upacara mensucikan danau dengan menggelar
berbagai atraksi wisata yang sangat menarik.
Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera
Tappareng memakai baju Bodo (pakaian adat Orang Bugis). Acara ini juga
dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu
hias, lomba permainan rakyat (lomba layangan tradisional, pemilihan anak dara
dan kallolona Tanah Wajo), lomba menabuh lesung (padendang), pagelaran musik
tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh waria, dan berbagai pagelaran
tradisional lainnya.



Lomba perahu dayung merupakan tradisi yang turun temurun dan terpelihara
di kalangan para nelayan. Sedangkan Maccera Tappareng merupakan bentuk kegiatan
ritual yang dilaksanakan di atas Danau Tempe oleh masyarakat yang berdomisili di
pinggir Danau Tempe, biasanya ditandai dengan pemotongan kurban/sapi yang
dipimpin oleh seorang ketua nelayan, dan serentetan acara lainnya.
Agro wisata sutra menjadi salah satu andalan di kabupaten ini. Tahap
penanaman murbei hingga proses pembuatan kain sutera sudah lama menjadi daya
tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Wajo.Lokasi
pembibitan dan penanaman murbei terletak pada beberapa desa di Kecamatan
Sabbangparu, sekitar 10 km sebelah Selatan Kota Sengkang, jalan poros menuju
Kabupaten Soppeng.


Di sini, pengunjung dapat menyaksikan proses penanaman murbei, cara
memelihara ulat sutera, proses pemintalan benang sutera, hingga cara menenun
kain sutera. Khusus produk sutera yang berupa kain, sarung, kemeja, dasi, dan
berbagai bentuk cinderamata dari kain sutera misalnya : kipas dan tas, dapat kita
saksikan di beberapa showroom sutera yang ada di Kota Sengkang. Di toko souvenir
itu tersedia berbagai macam warna maupun motif yang indah. Motif yang banyak
diminati masyarakat umumnya motif Bugis dan motif yang menyerupai ukiranukiran
Toraja.
514

___________________________________________________________

dari berbagai sumber :

http://www.indonesia.travel

http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Tempe

http://noertika.wordpress.com/wajo-my-home-land/

fotografer: Yusran & Ansar Makassar Terkini

___________________________________________________________

Minggu, 10 Agustus 2008

Profil Tari Pakarena Makassar




Memang tak ada orang yang tahu persis sejarah Pakarena. Tapi dari cerita-cerita lisan yang berkembang, tak diragukan lagi tarian ini adalah ekspresi kesenian rakyat Gowa.


Menurut Munasih Nadjamuddin yang seniman Pakarena, tarian Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual saat penduduk lino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi.


Sebagai seni yang berdimensi ritual, Pakarena terus hidup dan menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya. Meski tarian ini sempat menjadi kesenian istana pada masa Sultan Hasanuddin raja Gowa ke-16, lewat sentuhan I Li’motakontu, ibunda sang Sultan. Demikian juga saat seniman Pakarena ditekan gerakan pemurnian Islam Kahar Muzakar karena dianggap bertentangan dengan Islam. Namun begitu tragedi ini tidak menyurutkan hati masyarakat untuk menggeluti aktifitas yang menjadi bagian dari hidup dan kehidupan yang menghubungkan diri mereka dengan Yang Kuasa.


Belakangan ini tangan-tangan seniman kota dan birokrat pemerintah daerah (pemda) telah menyulap Pakarena menjadi industri pariwisata. Dengan bantuan tukang seniman standar estetika diciptakan melalui sanggar-sanggar agar bisa dinikmatin orang luar. Untuk mendongkrak pendapatan daerah, alasannya. Sebagian seniman mengikuti standar resmi dan memperoleh fasilitas pemda. Tapi sebagian seniman lain enggan mengikuti karena dianggap tidak sesuai tradisi adat setempat, meski menanggung resiko tidak memperoleh dana pembinaan pemda atau tidak diundang dalam pertunjukan-pertunjukan.


Dg Mile (50 tahun), misalnya. Seniman Pakarena asal desa Kalase’rena, Kec. Barang lompo ini tergolong teguh pendirian. Ia biasanya mencari berbagai cara berkelit untuk tidak menghadiri undangan departemen pariwisata. Kadang beralasan sedang ada acara ritual sendiri di kampungnya atau menghadiri sunatan dan pengantin tetangganya, atau kalau pun tidak bisa menolak maka ia akan menuntut syarat agar teman-temannya tidak terlantar usai pertunjukan.


Cara lain yang agak berbeda ditunjukkan Sirajuddin Bantam. Anrong guru Pakarena dari Gowa ini terang-terangan menolak tampil jika ada pejabat yang mau mendikte tampilan penarinya. Bahkan saat diminta tampil, ia tidak segan mempertanyakan lebih dulu keperluan pertunjukan itu dan sejauh mana menguntungkan teman-temannya. Karena ia tahu ada jenis tarian yang bisa dipertontonkan dan mana yang hanya bisa tampil di acara-acara tertentu. Sirajuddin juga kadang ngibulin pejabat yang menuntut tampilan tertentu dengan tiba-tiba mengubah sendiri skenario tarian di atas panggung.


Sikap yang ditempuh para seniman ini memang bukan tanpa resiko. Mereka harus merawat tradisi Pakarena dengan hidup pas-pasan tanpa bantuan pemerintah. Hanya dengan kreatifitas saja mereka bisa bersaing dengan seniman kota yang menikmati fasilitas dan kesejahteraan jauh di atas rata-rata.


Kecerdikan ini misalnya dipunyai Sirajuddin dan Dg Mile. Sirajuddin mendokumentasikan sendiri tarian Pakarena dan lalu memperkenalkannya ke publik sampai mancanegara. Tentu saja dia dan para seniman kampung yang bersamanya juga mengkreasi Pakarena ini. Tapi ia sungguh menyadari mana tarian yang bisa dikreasi dan mana yang tidak. “Royong yang biasa dipakai ritual, tak perlu ditampilkan. Hanya pakarena Bone Balla yang ditampilkan,” ujar pemilik sanggar tari Sirajuddin ini, sembari menjelaskan bahwa Bone Balla biasa dipertontonkan kerajaan untuk menyambut para tamu.


Sementara itu, Dg Mile yang juga pemilik sanggar Tabbing Sualia ini lebih memilih tampil sendiri tanpa bergantung sama pemda. Paling banter dia dan kelompoknya hanya mau tampil bila bekerja sama dengan LSM tertentu yang peduli terhadap kesenian rakyat. ”Selama ini saya lebih suka main dengan Latar Nusa ketika mau menampilkan kesenian Pakarena di dalam dan di luar negeri,” kata Dg Mile menyebut nama LSM itu.


Begitulah, rupanya kaum seniman memiliki pengertian beda mengenai Pakarena. Orang macam Dg Mile dan Sirajuddin menyadari, Pakarena yang ”dipasarkan” pemda selama ini cenderung terpisah dari kehidupan, tradisi, dan makna yang diimajinasikan komunitas. Proses itu hanya menguntungkan seniman kelas menengah di kota dan kepentingan tertentu di pemerintahan. Seperti keinginan pemda mengubah pakaian penari tradisi di Sulsel agar sesuai dengan norma agama tertentu.


Jelas ini melahirkan kerisauan. Dg Mile sampai-sampai menjelaskan berulangkali kalau Pakarena tidaklah syirik karena ditujukan kepada Yang Kuasa. Sirajuddin pun meminta agar para agamawan tidak menggunakan syariat yang formalis saja dalam menilai kesenian, tapi menggunakan hakikat atau tarekat. “Jika pemahaman mereka benar, tidak ada kesenian kita yang bertentangan dengan agama,” ujar Sirajuddin, sambil mencontohkan istilah passili dalam Pakarena yang berarti memerciki para seniman dan peralatannya dengan sejumput air agar membawa keberuntungan, selaras dengan agama. ”Lalu mana lagi yang harus diberi warna atau nuansa agama,” kata Sirajuddin mengakhiri argumentasinya.


Kalau sudah begini, soalnya menjadi tergantung siapa yang menafsir. Kebenaran kembali ada dalam keyakinan para penghayatnya. Bukan elit agama atau birokrasi yang kerap memonopoli makna.[Liputan oleh Syamsurijal Adhan]


Sikap batinnya hening, penuh kelembutan, dedikatif, itulah kesan yang tersirat dari gemulainya gerakan penari ini. Tari Pakarena yang dibawakan penari ini adalah tarian kas masyarakat Sulawesi Selatan. Setiap penari harus melakukan upacara ritual adat yang disebut jajatang, dengan sesajian berupa beras, kemeyan dan lilin. Ini dimaksudkan untuk memperoleh kelancaran sepanjang pertunjukan berlangsung.



Pakarena adalah bahasa setempat berasal dari kata Karena yang artinya main. Sementara ilmu hampa menunjukan pelakunya. Tarian ini mentradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan wilayah bekas Kerajaan Gowa.

Ini dulunya, pada upacara-upacara kerajaan Tari Pakarena ini dipertunjukkan di Istana. Namun dalam perkembangannya, Tari Pakarena ini lebih memasyarakat di kalangan rakyat. Bagi masyarakat Gowa, keberadaan Tari Pakarena tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka sehari-hari.

Kelembutan mendominasi kesan pada tarian ini. Tampak jelas menjadi cermin watak perempuan Gowa sesungguhnya yang sopan, setia, patuh dan hormat pada laki-laki terutama terhadap suami.



Gerakan lembut si penari sepanjang tarian dimainkan, tak urung menyulitkan buat masyarakat awam untuk membedakan babak demi babak. Padahal tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Gerakan yang sama, nyaris terangkai sejak tarian bermula. Pola gerakan yang cenderung mirip dilakukan dalam setiap bagian tarian.

Sesungguhnya pola-pola ini memiliki makna khusus. Gerakan pada posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam. Menunjukkan siklus kehidupan manusia.

Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam.

Tidak salah kalau seorang penari Pakarena harus mempersiapkan dirinya dengan prima, baik fisik maupun mental. Gerakan monoton dan melelahkan dalam Tari Pakarena, sedikit banyak menyebabkan kaum perempuan di Sulawesi Selatan, tak begitu berminat menarikannya.

Kalaupun banyak yang belajar sejak anak-anak, tidak sedikit pula yang kemudian enggan melanjutkannya saat memasuki jenjang pernikahan. Namun tidak demikian halnya seorang Mak Joppong. Perempuan tua yang kini usianya memasuki 80 tahun ini, adalah seorang pelestari tari klasik Pakarena.

Ia seorang maestro tari khas Sulawesi Selatan ini. Ia seorang empu Pakarena. Mak Joppong sampai sekarang masih bersedia memenuhi undangan. Untuk tampil menarikan Pakarena yang digelutinya sejak usia 10 tahun ini. Disebut-sebut, perempuan inilah yang mampu menarikan Pakarena dengan utuh, lengkap dengan kesakralannya sebagai sebuah tarian yang mengambarkan kelembutan perempuan Gowa.

Mak Joppong tak pernah mau ambil pusing dengan bayaran yang diterimanya. Dedikasi penuh pada tarian ini, membuatnya rela menerima seberapapun besarnya bayaran yang diberikan si pengundang.

Padahal selepas ditinggal suaminya wafat, kehidupannya banyak bergantung pada kesenian yang telah lama diusungnya ini. Namun biasanya, ia menerima bayaran sekitar 500 ribu hingga 1 juta rupiah, untuk tampil semalam suntuk, termasuk biaya sewa pakaian dan alat-alat.

Tubuh yang sudah renta termakan usia. kulit yang semakin keriput sejalan perjalanan hidup, tak membuatnya surut dalam berkarya bersama Tari Pakarena. Bahkan untuk membagi kebisaan yang didapat dari ayahnya ini. Ia sejak tahun 1978, mengajarkan Tari Pakarena kepada para gadis di kampungnya di Desa Kambini, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa.

Di rumahnya, yang merupakan rumah panggung kas Gowa yang disebut Balarate, para gadis melangkah, melengok, mengerakan tangannya mengikuti gerak si empu Pakarena Mak Joppong.

Saat ini ada 6 gadis yang menjadi anak didiknya, dan tak sepeserpun, Mak Joppong memunggut biaya. Tari Mak Joppong amat terasa sedih disaat salah seorang anak didiknya memasuki jenjang pernikahan.

Karena biasanya, usai menikah, anak didiknya tak lagi menekuni Tari Pakarena. Sebuah kebiasaan di Gowa, adalah hal yang tabu dan malu, bila seorang perempuan yang telah menikah tampil di muka umum.

Pandangan umum inilah yang menyebabkan Tari Pakarena seolah hanya selesai sampai di situ. Padahal tidak demikian buat Mak Joppong, Pakarena adalah Tarian sakral yang tidak semua perempuan mampu menarikannya. Ketekunan dan kesabaran menjadi modal utama buat Penari Pakarena. Itulah salah satunya yang dimiliki Mak Joppong hingga kini.

Kini nasib Tari Pakarena seolah hanya bersandar pada Mak Joppong semata. Selain hanya ia yang paham akan seluk beluk tarian ini, ia pula lah yang tetap setia mengusung tari tradisional yang pernah jaya di masa kerajaan Gowa dulu.

Penari Pakarena, begitu lembut mengerakan anggota tubuhnya. Sebuah cerminan wanita Sulawesi Selatan. Sementara iringan tetabuhan yang disebut Gandrang Pakarena, seolah mengalir sendiri. Hentakannya yang bergemuruh, selintas tak seiring dengan gerakan penari. Gandrang Pakarena, adalah tampilan kaum pria Sulawesi Selatan yang keras.

Tarian Pakarena dan musik pengiringnya bak angin kencang dan gelombang badai. Terang musik Gandrang Pakarena bukan hanya sekedar pengiring tarian. Ia juga sebagai penghibur bagi penonton. Suara hentakan lewat empat Gandrang atau gendang yang ditabuh bertalu-talu ditimpahi tiupan tuip-tuip atau seruling, para pasrak atau bambu belah dan gong, begitu mengoda penontonya.

Komposisi dari sejumlah alat musik tradisional yang biasanya dimainkan 7 orang ini, dikenal dengan sebutan Gondrong Rinci. Pemain Gandrang sangat berperan besar dalam musik ini. Irama musik yang dimainkan sepenuhnya bergantung pada pukulan Gandrang. Karena itu, seorang pemain Gandrang harus sadar bahwa ia adalah pemimpin dan ia paham akan jenis gerakan Tari Pakarena.

Biasanya selain jenis pukulan untuk menjadi tanda irama musik bagi pemain lainnya, seorang penabuh Gandrang juga mengerakan tubuh terutama kepalanya. Ada dua jenis pukulan yang dikenal dalam petabuhan Gandrang.

Yang pertama adalah pukulan Gundrung yaitu pukulan Gandrang dengan menggunakan stik atau bambawa yang terbuat dari tanduk kerbau. Yang kedua adalah pukulan tumbu yang dipukul hanya dengan tangan.

Gemuruh suara yang terdengar dari sejumlah alat musik tradisional Sulawesi Selatan ini, begitu berpengaruh kepada penonton. Mereka begitu bersemangat, seakan tak ingat lagi waktu pertunjukan yang biasanya berlangsung semalam suntuk.

Semangat inipula yang membuat para pemain musiknya semakin menjadi. Waktu bergulir, hentakan Gandrang Pakarena terus terdengar. Namun entah sampai kapan Gandrang Pakarena akan terus ada.

Nasibnya amat bergantung pada Tarian Pakarena sendiri yang kini masa depannya seolah hanya berada di tangan Mak Joppong. Muda-mudahan semangatnya tak akan pudar, seiring dengan irama musiknya yang mencerminkan kerasnya lelaki Sulawesi Selatan. (Sup)

_________________________________________



dikutip dari berbagai sumber :


flickr.com : keyword =pakarena


artikel : Mh. Nurul Huda & Syamsurijal Adhan


http://cybertravel.cbn.net.id/cbprtl/common/stofriend.aspx?x=Time+Traveller&y=cybertravel|2|0|3|540


http://desantara.org/v3/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=107


http://makassarterkini.com/index.php?option=com_content&task=view&id=320&Itemid=85


http://guratcipta.files.wordpress.com/2007/11/jennifer-galigo3-2.jpg


http://nurulhuda.wordpress.com/2006/09/28/


Harian Fajar, 28 September 2006

Rabu, 06 Agustus 2008

Jalan-jalan Ke Jeneponto Sulawesi Selatan



Mengintip Pesona Wisata di Bumi Turatea


Selamat datang di bumi Turatea, kalimat itu akan terlihat saat pertama kali kita memasuki Kabupaten Jeneponto, kota dengan keindahan wisatanya yang mempesona.


Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Jeneponto. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 737,64 km2 dan berpenduduk sebanyak ±300.000 jiwa. Kabupaten Jeneponto terletak di ujung bagian Barat wilayah Propinsi Sulsel yang jarak tempuhnya dari Kota Makassar sekitar 90 km.


Dalam rangka pencanangan Visit Indonesia Year 2008 berbagai kota di tanah air terus digalangkan. Dan Jeneponto pun tidak mau ketinggalan untuk memperkenalkan obyek wisatanya. Baik itu wisata alam, budaya, agrowisata dan agrobisnis. Jadi tak salah rasanya jika jalan-jalan kita kali ini, kita menyambangi Kabupaten Jeneponto yang juga dikenal sebagai penghasil Garam terbesar dan kepiawaiannya membuat Coto Kuda sebagai wisata kuliner tersohor di Sulsel.



Wisata Air Terjun Je’ne Ariba


Mengunjungi Jeneponto tak lengkap rasanya bila tidak ke Air terjuang Je’ne Ariba. Je’ne Ariba berada di Desa Kapita kecamatan Bangkala. Air terjung ini memang belum bisa di sejajarkan dengan air terjun Takkapala yang ada di Malino, namun air terjuang Je’ne Ariba ini memiliki keunikan tersendiri untuk ditelusuri. Di mana saat memasuki kawasan ini, para pengunjungnya akan dijamu dengan keindahan pegunungan yang cukup memukau dan mempesona. Selanjutnya menuju ke arah obyek, pengunjung kembali diwajibkan untuk menelusuri perkebunan jagung, jambu menteh dan tambak ikan. Ini tentu saja menjadi keasyikan dan tantangan tersendiri bagi Anda yang suka berpetualang ke alam bebas. Sekilas, perjalanan akan sangat melelahkan saat menuju lokasi Je’ne Ariba, tapi Anda tak perlu khawatir mengingat keindahan alam yang bertebaran di seputar jalan menuju area air terjun membuat kita tak merasakan hal ini. Malah sebaliknya decak kagum selalu datang menghampiri. Kesejukan air telaga di Je’ne Ariba sangat bening dan segar. Di kawasan ini sangat sering digunakan sebagai tempat rekreasi masyarakat umum yang bertanda bersama keluarga, khususnya pada hari Minggu yang juga bersamaan hari pasar di seputaran desa Kapita ini. Jarak tempuh wisata Je’ne Ariba sekitar 25 km dari kota Jeneponto.



Bungung Salapang



Tidak lupa Anda pun bisa mengunjungi wisata Bungung Salapang atau sembilan Sumur. Tempat wisata ini juga sangat menarik untuk dikunjungi, karena bisa disebut sebagi wisata Budaya. Di mana air yang ada di dalam Bungung Salapang ini tidak pernah habis meskipun banyak orang yang memakainya, dan hal itu sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Bungung Salapang, oleh sebagian masyarakat Jeneponto juga dipercayai selain dapat menghilangkan berbagai macam penyakit yang ada dalam tubuh, bisa awet mudah juga bisa ketemu jodoh. Dengan cara orang tersebut harus datang dengan niat baik dan tulus, untuk memohon (nasar), sambil mengikat tali yang menyerupai akar-akaran di seputaran pohon atau area Bungung Salapang, sambil berucap dalam hati ‘ Aku akan kembali melepas tali ini setelah jodohku aku temukan ’ lalu membasuh air ke muka. Percaya tidak percaya tempat wisata ini banyak dikunjungi masyarakat dari dalam dan luar Jeneponto. Dan saat ini kawasan Bungung Salapang menjadi potensi khasanah yang unik karena keragaman budaya yang ada di Masyarakatnya selalu berpulang pada kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Sebagian masyarakat mengkulturkan dan menjadikan tempat tersebut sakral.




Agrobisnis Industri Garam


Kualitas garam yang dikelola secara tradisional dapat di temukan di Jeneponto. Pengolahan yang tradisional menjadikan garam dari sini cukup diperhitungkan oleh pelaku bisnis dari luar Sulsel. Pada umumnya Garam di sini diolah kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri, namun bahan penggunaannya tidak mengandung unsur kimia yang merusak. Lahan pembuatan garam di sini dibuat berpetak-petak secara bertingkat, sehingga bagi anda yang ingin mengetahui lebih dalam lagi cara menghasilkan dan membuat garam, Anda tinggal mengunjungi kawasan Nassara di Jeneponto.




Tak lengkap rasanya jika mengunjungi Jeneponto, tanpa mencicipi coto kudanya. Aneka rasa yang disajikan akan mengundang selera dan rasa penasaran tak kala menikmati satu mangkuk panas hidangan coto kuda. Harganya pun terbilang murah, hanya Rp. 9000 Anda sudah dapat menikmatinya.


Sebenarnya masih ada banyak lagi tempat-tempat menakjubkan yang bakalan memacu decak kagum Anda setiap kali berkunjung ke Jeneponto. Seperti Wisata Pantai Pasir Putih Kassi, Cagar Budaya Makam Raja-raja Binamu, Panorama Alam Loka Jenetallasa, Pacuan Kuda di Binamu dan Pasir Putih Taman Roya, selalu menanti. Jadi selamat berkunjung sambil menikmati keunikan dan keindahan wisata di Butta Turatea, Jeneponto. Yulianti






Rabu, 16 Juli 2008

Tempat Tempat Wisata Di Kabupaten Bantaeng



Kabupaten Bantaeng adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kotanya ialah Kota Bantaeng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 395,83 km² dan populasi ±150.000 jiwa.

Secara geografi Kabupaten Bantaeng terletak pada koordinat antara 5o 21’ 13” sampai 5o 35’ 26” Lintang Selatan dan 119o 51’ 42” sampai 120o 05’ 27” Bujur Timur.
Batas-batas Wilayah :
>> Sebelah Utara : Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bulukumba
>> Sebelah Selatan : Laut Flores
>> Sebelah Timur : Kabupaten Bulukumba
>> Sebelah Barat : Kabupaten Jeneponto
Kabupaten Bantaeng terletak di bagian selatan Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh dari Kota Makassar sekitar 123 km dengan waktu tempuh antara 2,5 jam. Luas wilayahnya 395.83 km2. Beberapa objek wisata antara lain:

_____________________________________________________________
Permandian Alam Eremmerasa

Terletak di Desa Kampala, Kecamatan Ere merasa, sekitar 16 kilometer dan Kota Bantaeng. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh sekitar 30 menit, melewati jalan aspal dengan tanjakan yang sesekali berkelok.

Di sepanjang jalan, anda dapat menyaksikan rumah panggung berjejer di antara areal persawahan. Di sekitar permandian ini udaranya sejuk, dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon dan tanaman berwarna hijau.
Di sini terdapat kolam renang sebanyak dua buah, masing masing untuk orang dewasa dan anak-anak. Kolam renang mi mempunyai sumber air dari pegunungan. Airnya jernih dan sejuk. Di dalam kolam renang itu, anda dapat melakukan kegiatan mandi dan lomba renang. Di antara dua kolam renang, terdapat sebuah panggung untuk pentas atau pertunjukan acara.
Di sekitar kolam renang, terdapat aliran air dan pegunungan mengalir di antara batu-batu dan membentuk air terjun kecil. Di bawah air terjun itu terdapat aliran air yang membentuk sungai kecil. Hati-hati, kalau anda ingin menyaksikan air terjun kecil ini. Anda harus melewati jalan kecil dengan tangga tanah.
________________________________________________________

Air Terjun Bissapu 

Terletak di Desa Bonto Salluang, Kecamatan Bissappu, sekitar 5 kilometer dan Kota Bantaeng. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh sekitar 15 menit, melewati jalan aspal dengan tanjakan berkelok-kelok.
Perjalanan menuju ke sana sebaiknya dilakukan di waktu pagi atau sebelurn siang hari. Di sepanjang jalan, anda dapat merasakan udara sejuk dengan pemandangan alam berupa pepohonan hijau di kanan-kiri jalan. Setelah tiba di lokasi tujuan wisata, anda dapat menyaksikan pohon jati di sekitar air terjun.
Untuk dapat melihat air terjun, pengunjung harus berjalan melewati anak tangga yang bersusun ke bawah. Land sekap di sekitar air terjun itu tertata secara alami. Di sekitarnya terdapat tempat untuk beristirahat, ada batu besar yang dapat digunakan sebagai tempat duduk.

_______________________________________________________

Pantai Pasir Putih Korong Batu
Terletak di Desa Baruga, Kecamatan Pajukukang, sekitar 18 kilometer dan Kota Bantaeng. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh sekitar 30 menit, melewati jalan poros Bantaeng ke arah Kabupaten Bulukumba. Pantai pasir putih ini terletak tidak jauh dari jalan raya.

Pengunjung yang melakukan perjalanan ke sana dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Dari jalan raya, terdapat jalan setapak yang dapat dilewati oleh kendaraan bermotor. Jalan tanah yang sudah mengalami pengerasan ini jaraknya tak lebih dan 1 km dari jalan raya.
Di sini anda dapat melakukan kegiatan berjemur di pantai atau olahraga pantai. Mandi atau berendam di laut juga kegiatan yang mengasyikkan. Kalau anda ingin berlayar dengan perahu, di sepanjang pantai tersedia perahu nelayan yang dapat disewa untuk berkeliling di sepanjang pantai.

________________________________________________________

Hutan Wisata Gunung Loka & Resort Outbond




Terletak di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere, sekitar 24 kilometer dari Kota Bantaeng. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 90 menit, melewati Kecamatan Bissappu.

Jalan menuju ke sana berkelok-kelok dan mendaki di sepanjang jalan. Pengunjung dapat menyaksikan tanaman jagung yang ditanam di lereng-lereng bukit. Di sini udaranya sejuk, karena berada di atas daerah ketinggian.

Hati-hati melakukan perjalanan ke sana pada musim hujan, karena jalannya licin. Kendaraan yang dibawa ke sana kondisinya harus prima. Remnya harus berfungsi dengan baik. Pada tanjakan yang terdapat belokan, kurangi kecepatan kendaraan yang digunakan.

__________________________________________________


 
 
 















Pantai Seruni

Terletak di Kelurahan Tappanjeng, Kecamatan Bantaeng, berada dalam Kota Bantaeng. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh sekitar 5 menit, melewati jalan poros. Di sini ada dermaga sebagai tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan atau perahu yang membawa barang.
Dermaga dengan konstruksi kayu itu menjadi tempat bersantai para anak muda di waktu sore han. Di dekatnya terdapat cafetaria, tempat yang menjual makanan dan minuman ringan serta menyajikan musik.

Tak jauh dan dermaga, di sepanjang pantai, terdapat tempat duduk yang terbuat dan tembok memanjang dan timur ke barat. Banyak anak muda yang senang mangkal di sini. Duduk di pinggir pantai di sore han sambil menunggu sunset yang akan terbenam, merupakan pemandangan yang dapat dijumpai setiap han. Pada hari satu sore atau malam minggu biasanya ditempat ini pulalah secara spontanitas bermunculan para penjual barang - barang bekas.


_____________________________________________________

Sumber : http://www.bantaeng.go.id/

Senin, 14 Juli 2008

TEmpat-tempat Wisata di Kabupaten Bone



Secara geografi Kabupaten Bone terletak pada koordinat antara 4o 4’ 43” sampai 5o 8’ 45 ” Lintang Selatan dan 119o 49’ 3” sampai 112o 25’ 9” Bujur Timur.
Batas-batas Wilayah
>> Sebelah Utara : Kabupaten Wajo dan Soppeng
>> Sebelah Selatan : Kabupaten Sinjai dan Gowa
>> Sebelah Barat : Kabupaten Maros, Pangkep dan Barru.
>> Sebelah Timur : Teluk Bone.

________________________________________________

1. Kuburan Raja2 Watampone
Penghancuran dalam beberapa kali serangan ke ibukota Watampone tidak memberi kesempatan dan hancurnya berbagai kepentingan sejarah, terkecuali tersisa sekeping dinding salah satu kantor yang berwarna-warni sebagai sebagian istana Bone di abad ke 19 Masehi. Museum yang terletak di sudut jalanan utama sangat penting untuk di kunjungi untuk melihat regalia dari kesultanan Bone. Kompleks kuburan raja-raja dengan tipe kuburan raja Gowa terdapat di Bukaka jalan menuju ke Sengkang. Sekitar 4 kilometer arah timur dari kota terletak pelabuhan Bajoe, nama ini di ambil dari nama Bajo orang perahu yang tinggal hidup di perahu terlihat di berbagai pelosok Nusantara. Dari Bajoe orang dapat naik fery ke Kolaka di Sulawesi Tenggara.

_________________________________________

2. Goa Mampu
Goa yang terbesar dan yang sangat spektakuler dari jajaran goa kapur di Sulawesi Selatan. Ceritera legenda bersama dengan hilangnya kerajaan Mampu, menjadikan James Brooke telah sangat penasaran oleh ceritera kerajaan Mampu tersebut dan ia telah berusaha dengan sekaut tenaga mencapai goa itu di tahun 1840. Dia sangat kecewa akan tetapi dia sangat mengakui kehebatan dan kecantikan dari goa tersebut.
Wisata Alam Bersejarah Kab. Bone:
Goa Mampu di Desa Cabbeng Kecamatan Dua BoccoE
Goa Janci di Desa Mallari Kecamatan Awangpone
Tempat Peraduan Arung Palakka dalam Goa di Kecamatan Awangpone
Sektor Pariwisata terdiri dari Objek Wisata Alam dan Objek Wisata Budaya Objek Wisata Alam terdiri dari : Tanjung Palete, Dermaga Bajoe, Perwakilan Naga Uleng, Gua Jepang dan Gua Janci, Permandian Alam Lanca Otting, Air Terjun Baruttunge Ladenring serta Permandian Alam Siduppa Matae sedangkan objek Wisata Budaya terdiri dari : Mesium lapawawoi, Bola Soloa, Bukit Manurunge di Matajang, Makam Kalokkoe, dan Makam Letata Makarame dan lain-lain.

____________________________________________

Dari Berbagai Sumber

Tempat Tempat Wisata di Kabupaten Pangkep



Secara geografi Kabupaten Pangkep terletak pada koordinat antara 110o sampai 113” Lintang Selatan dan 4o 40’ sampai 8.00 ” Bujur Timur.

Batas-batas Wilayah :
- Sebelah Utara : Kabupaten Barru
- Sebelah Selatan : Kabupaten Maros
- Sebelah Timur : Kabupaten Bone.
- Sebelah Barat : Pulau Kalimantan, Jawa, Madura Nusa Tenggara & Bali.

Tempat Wisata di Kabupaten Pangkep , antara lain

1. Taman Purbakala Sumpang Bita
Taman purbakala yang lain ini adalah sambungan dari rentetan bukit batu kapur dari Leang-leang yang juga memiliki banyak gua. Padanya dapat ditemukan lukisan prasejarah yang sangat menarik berusia 5000 tahun silam. Arkeolog berpendapat beberapa dari goa itu tampak telah dihuni oleh manusi lebih awal dari 8000-3000. Lebih dari seratus tingkat anak tangga yang disemen telah dibangun untuk menaiki goa-goa itu. Ada kolam renang sederhana tersedia dan daerah ini ini dekat dengan pabrik semen Tonasa I.
2. Pulau Kapoposan
Dewasa ini objek wisata penyelaman yang hebat telah dapat di jumpai di Sulawesi Selatan. Diantara objek penyelaman yang sedang berkembang yang sangat terkenal adalah Pulau Kapoposan yang jaraknya 2 (dua) jam dengan Speedboat dari Ujung Pandang Pulau Kapoposan, memiliki keaslian alam dengan batu karang yang belum pernah dijamah manusia. Peralatan penyelam dapat disewa di Ujung pandang sedangkan pemondokan dan makanan dapat diperoleh disekitar objek.
3. Taman Prasejarah Leang-leang
Dengan perawatan dan penataan yang apik, ditemukan goa-goa peninggalan sejarah masa lampau. Salah satu di antaranya yang masih bisa dinikmati adalah lukisan-lukisan bersejarah yang berusia kira-kira 5.000 tahun. Arkeolog berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8-000 - 3.000 tahun Sebelum Masehi

Tempat-tempat wisata di Kabupaten Pinrang



Di Kabupaten Pinrang terdapat beberapa Tempat wisata yang terkenal antara lain :

1. Permandian Air Panas Sulilie
Permandian ini terletak di Desa Solilie barat kecamatan Patampanua (Jaraknya ± km arah timur kota Pinrang), Waktu perjalanan ± 10 menit melewati jalan darat yang beraspal mulus. Fasilitas yang dimiliki tempat ini adalah pemondokan (tempat peristirahatan) serta kolam mandi. Tempat ini banyak dikunjungi masyarakat, selain untuk berekreasi juga untuk mengobati berbagai penyakit kulit dan reumatik.


2. Pantai Ujung Tape
Salah satu obyk wisata bahari yang terletak di desa Langga kecamatan Mattiro Sompe ± 25 km arah barat kota Pinrang, Untuk mencapai tempat ini diperlukan waktu perjalanan ± 20 menit melalui jalan darat dan beraspal. Kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri, pada sore hari kita dapat menikmati angin pantai yang sejuk. Pantai Ujung Tape ramai dikunjungi masyarakat utamanya pada hari libur dan hari raya.



Lemo Susu
Lemo Susu


3. Permandian Air Panas “Lemo Susu”
Permandian Air Panas “Lemo Susu” adalah salah satu obyek wisata yang terletak di kecamatan Lembang ± 45 Km arah utara kota Pinrang. Berada di atas lahan seluas 20 hektar dengan fasilitas yang tersedia antara lain kolam renang, bangunan-bangunan peristirahatan, pondok karaoke dan lain-lain.
Pak Rahmat, pemilik dan pengelola Lemo Susu
Pak Rahmat, pemilik dan pengelola Lemo Susu


Berada ditempat ini pengunjung dapat menikmati sejuknya udara pegunungan sembari memandangi keindahan alam yang diapit oleh dua buah pegunungan. Jalur darat menuju ke tempat ini beraspal mulus. Sementara harga tiket masuknya tergolong murah, dewasa hanya Rp.5.000, dan anak-anak Rp.3.000. Obyek wisata ini murni dikelola oleh pihak swasta. Pemiliknya bernama Bapak Rahmat.

4. Pulau Kamarrang
Salah satu obyek wisata bahari yang terletak di kecamatan Suppa (± 30 Km arah selatan kota Pinrang). Kawasan ini diapit oleh laut sehingga menarik untuk dikunjungi. Pulau Kamarrang adalah wilayah Kabupaten Pinrang yang berhadapan dengan kota Parepare, sehingga bila kita mau menyeberang ke pulau ini lebih dekat bila anda lewat Pelabuhan Parepare naik perahu tradisional dan hanya memerlukan waktu ± 15 menit.


5. Permandian Air Terjun Karawa
Di kecamatan Lembang terdapat beberapa tempat wisata, salah satunya adalah Air Terjun arah Utara Kota Pinrang, dalam menempuh perjalanan sampai ke tempat ini memerlukan waktu ± 1.7 Jam, jalan menuju ke tempat ini sebagian beraspal dan sebagian pula jalanan pengerasan. Air Terjun Karawa, salah satu obyek wisata alam yang banyak di kunjungi masyarakat, terutama pada hari raya atau hari libur, sebab Permandian Air Terjun ini mempunyai Pesona alam.


6. Rumah Makan Terapung
Rumah Makan Terapung yang terletak di MALIMPUNG kecamatan Patampanua ± 20 Km arah timur kota Pinrang. Tempat ini banyak dikunjungi masyarakat, terutama pada siang hari untuk bersantai sambil memancing ikan di danau.


7. Benteng Paremba
Dengan hamparan pohon buah-buahan berbagai jenis yang sedang tumbuh, mempunyai prospek yang cukup menjanjikan sebagai obyek wisata agro. Letaknya ± 40 Km arah utara kota Pinrang, yaitu tepatnya diperbatasan Kabupaten Polmas, luas kawasan ini mencapai ratusan hektar.


8. Bendungan Benteng
Bendungan Benteng adalah salah satu peninggalan Kolonial Belanda. Pada tahun 1939 bendungan ini dibangun, di mana pada awalnya hanya sebuah survey pada induk bendungan Benteng oleh IR. FRAMA tahun 1927. Bendungan ini mulai dikerjakan pada tahun 1936 dibawah Pimpinan IR.H.M VERWAY. Bendungan Benteng terletak di kecamatan Patampanua, ± 20 km arah utara kota Pinrang. Memerlukan perjalanan ± 20 menit melalui jalan darat.


9. Monumen Lasinrang
LASINRANG, adalah seorang pahlawan legendaris dalam masyarakat Sawitto, di masa penjajahan, Lasinrang dikenal seorang pemberani melawan penjajah. Figur lelaki ini mulai dikenal, ia melawan kekuasaan Belanda dengan taktik Perang Gerilya. Ini terjadi pada tahun 1903. Suatu ketika utusan Belanda mendaangi Addatuang (Raja) yang bermaksud mengadakan kerjasama. Tetapi hal ini ditolak mentah-mentah oleh Raja, sehingga membuat berang serdadu Belanda.


10. Lefa-Lefa Race
Lefa-lefa Race adalah kegiatan perlombaan perahu tradisional yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Pinrang setiap tahunnya dan diikuti oleh puluhan peserta, dan pesertanya adalah masyarakat Pinrang dan sekitarnya. Kegiatan ini berlangsung di pantai Ujung Labuang kecamatan Suppa Kabupaten Pirang kurang lebih 25 km arah selatan kota Pinrang, Para peserta saling memacu perahu mereka masing-masing, sehingga menarik untuk ditonton. Di pantai Ujung Labuang ini memang cocok untuk lomba, baik perahu tradisional maupun untuk olah raga berenang. Sebab air laut di tempat ini sangat jernih dan ombaknya tidak terlalu besar.


11. Permandian Balaloang Permai
Air Terjun Balaloang Permai terletak di Desa Pakeng kwc. Lembang ± 30 km arah utara kota Pinrang ± 3 km dari jalan poros polmas Sulawesi Barat Permandian Balaloang Permai memiliki keunikan tersendiri dimana di tempat ini kita bisa menikmati dinginya air yang mengalir dari pegunungan serta kita dapat menikmati indahnya panorama alam yang indah. Lama perjalanan dari kota Pinrang ke tempat hanya menempuh waktu ± 45 menit melalui jalan darat.


12. Air Terjun Kalijodoh

Air Terjun Kalijodoh adalah salah satu obyek wisaa yang trletak di Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang ± 25 km arah utara kota Pinrang, bila kita mengadakan perjalanan ke tempat ini hanya memerlukan waktu 40 menit lewat jalan darat. Air terjun Kalijodoh mempunyai cerita tersendiri. Dan menurut ceritanya, dinamakan Kalijodo karena pada zaman dahulu sepasang muda-mudi berhasil membina rumah tangga setelah datang ke tempat ini untuk bermustajab, memohon do’a kepada Sang Pencipta untuk dipertemukan jodohnya. Hingga saat ini masyarakat Pinrang masih mempercayai cerita tersebut.

_________________________________________________________________________________________________

Sumber : http://pinrangkab.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=19