Hasil Pencarian

Pencarian

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2009

Meneropong Indahnya Wisata Alam dan Budaya di Bumi Lakipadada, Toraja




Bertandang ke Sulawesi Selatan, tak lengkap rasanya tanpa mampir ke Bumi Lakipadada, Tana Toraja. Daerah primadona wisata Sulsel ini juga dijuluki surganya wisata alam dan budaya, karena memiliki kekayaan dan keindahan obyek wisata budaya yang termasyhur dan tidak tertandingi di dunia.


Wilayah Tana Toraja memiliki luas 3.205,77 km2, terdiri dari 15 kecamatan, 116 lembang (desa), dan 27 kelurahan. Sekalipun di kabupaten ini telah terjadi pemekaran wilayah, yakni pemisahan antara Kabupaten Toraja dengan Toraja Utara tahun 2008 kemarin, tidak mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke Bumi Lakipadada ini.




Kondisi topografi Tana Toraja berada di daerah pegunungan, berbukit dan berlembah. Yang mana areanya terdiri dari 40% pegunungan dengan ketinggian antara 150 m s/d 3.083 m di atas permukaan laut (dataran tinggi 20%, dataran rendah 38%, rawa-rawa dan sungai 2%). Bagian terendah kabupaten ini, berada di Kecamatan Bonggakaradeng dan tertinggi Kecamatan Rindinggallo. Kondisi tersebut menjadikan kabupaten ini kaya akan keragaman obyek wisata alam dan budaya yang hingga kini tetap terjaga dan terpelihara.





Mengunjungi Tana Toraja, utamanya obyek-obyek wisatanya akan membuat Anda berdecak kagum. Karena seperti yang diketahu, daerah ini memiliki kekayaan budaya warisan leluhur yang tidak akan dijumpai di belahan bumi lain selain di Tana Toraja. Suguhan tempat wisata alam dan budaya yang dapat Anda saksikan jika berkunjung di daerah ana



Toraja, antara lain obyek wisata Kambira (kuburan pohon khusus bayi), Londa, Kete Ke’su, Batutumonga, Lemo Buntang, Bori, Lo’ko Mata, Perkampungan Buntao, Nanggala, Marante, Pekampungan Seni Ukir, arum jeram di Sungai Sa’dan, dusun Patane dan keragaman budaya upacara kematian (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka), Silaga Tedong atau pun atraksi Sisemba (adu kaki).


Wisata Alam dan Budaya



Kambira (Kuburan Bayi di dalam Pohon)



Obyek wisata satu ini sangat unik, karena jenazah bayi yang sudah meninggal dimasukkan ke batang pohon. Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi, dengan ketentuan lubang tidak boleh menghadap ke arah kediaman keluarga yang meninggal. Mayat bayi lalu diletakkan ke dalam, dan ditutupi dengan serat pohon dari bahan pelepas enau (kulimbang ijuk). Pengunjung yang bertanda di perkampungan ini, bisa melihat langsung kuburan para bayi yang dimakamkan di atas pohon. Pohon tersebut bernama Tarra, pohon yang menyerupai pohon buah sukun dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter. Pohon ini telah berumur sekitar 300 tahun dan tersimpan puluhan jenazah bayi berusia 0-7 tahun di dalamnya. Obyek wisata Kambira berada di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Kota Rantepao. Saat ini pohon tempat menyimpan mayat bayi tersebut sudah tidak digunakan lagi. Namun pohon Tara tersebut masih terlihat tegak berdiri, sehingga menjadi data tarik yang banyak dikunjungi wisatawan lokal mau pun mancanegara.




Dusun Patane




Tempat wisata ini menarik untuk dikunjungi. Karena dapat dijumpai setiap kali kita melewati beberapa dusun atau perkampungan warga. Patane adalah kuburan dari kayu yang berbentuk rumah Toraja. Biasanya dalam satu dusun, memiliki area Patane yang memang sudah dipersiapkan secara berkelompok. Di mana satu Patane, biasanya digunakan oleh satu keluargga yang akan menyimpan mayat keluarganya didalam lebih dari satu jenazah, bahkan biasa ada yang lebih dari lima jenazah. Dan itu dilakukan warga dengan ketentuan kelompok yang mereka buat tersendiri, yang juga disesuaikan dengan kesetaraan status sosial berkelompok yang berbeda-beda. Misalnya Patane Pong Massangka yang merupakan turunan bangsawan, di makamkan di dalam Patane, yang dilengkapi dengan patung (tau-tau) dirinya, terbuat dari kayu. Obyek wisata ini menjadi keunikan tersendiri buat wisatawan domestik dan mancanegara, yang selalu menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Patane.





Lokomata




Obyek wisata ini disebut Lokomata, karena berbentuk bulat dan menyerupai kepala manusia. Batu raksasa alam ini digunakan sebagai liang (kuburan) oleh masyarakat yang bermukim di sekitar Desa Pangden, dengan cara membuat lubang pada baru raksasa. Ukuran lubang disesuaikan dengan ukuran peti jenazah yang nantinya akan di masukkan ke dalang liang. Lokasi Lokomata berada di desa Pangden ±30 km dari Kota Rantepao, atau berada di lereng Gunung Sesean, dengan ketinggian kurang lebih 1.400 meter di atas permukaan laut. Tempat wisata ini begitu unik, menawan, dan fantastik untuk dikunjungi. Karena selain melihat liang, pengunjung juga disuguhkan panorama alam yang begitu indah, serta deru arus sungai di bawah kaki kuburan terlihat begitu alami.




Sungai Sa’dan, Mai’ting, Maulu dan Ma’dong




Arus air di sungai ini diakui sangat menarik. Karena para wisatawan dapat melakukan wisata alam, yakni arung jeram secara alami. Segala fasilitas dan perlengkapan arung jeram dapat disewa di seputaran sungai. Tentu saja dengan tarif yang terjangkau bagi pengunjung.




Permandian Makula dan Air Terjung Ranteballa




Obyek wisata air panas Makula berada tidak jauh dari Kota Rantepao, jaraknya sekitar 28 km. Di tempat ini tersedia kolam anak dan dewasa yang dapat digunakan untuk berendam air panas setelah perjalanan jauh atau lelah mengunjungi beberapa obyek wisata yang ada di Rantepao. Untuk masuk ke Makulan pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000 (dewasa) dan Rp 5.000 (anak-anak).



Selain permandian air panas Makula, juga ada air terjun asin di Kampung Ranteballa, Kecamatan Bittuang. Menariknya air terjun itu terbilang langka. Pasalnya selain tingginya mencapai sekitar 50 meter, debit airnya juga tidak pernah berkurang sekalipun musim kemarau. Airnya ini sangat sejuk dan asri. Kedua obyek ini, sangat ayik dinikmati sehabis berkunjung ke obyek wisata Kambira, Dusun Patena, Lokomata dan bermain arung jeram.






Wisata Unik dan Menghibur





Selain beberapa obyek wisata yang dapat Anda kunjungi di Tana Toraja, keragaman atraksi wisata juga menjadi daya tarik unik dan menghibur bagi wisatawan yang berkunjung. Seperti dapat menyaksikan upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun, tidak terkecuali di program kolosal dari Pemprov Sulsel, yakni Lovely Desember yang baru-baru diadakan tahun 2008 kemarin. Selain mengunjungi wisata di upacara kematian rambu solo dan rambu tuka, ada juga atraksi Sisemba dan Silaga Todong. Dalam atraksi ini, puluhan pemuda Tana Toraja, berseragam putih dan biru saling serang dengan menggunakan kaki. Aksi ini bukanlah tawuran, melainkan sebuah seni beladiri masyarakat Tana Torja yang unik. Dimana kaki kedua kelompok saling beradu, mengejar, dan kembali beradu kaki. Biasanya atraksi Sisemba, ditampilkan secara massal di perayaan pesta panen atau pesta kematian.






Suvenir Khas Toraja




Setelah menikmati keindahan panorama obyek wisata alam dan budaya, Anda bisa mampir di toko-toko pada pusat Kota Rantepao untuk membeli beragam cinderamata dan makanan khas Toraja, seperti Depa Tori, makanan yang terbuat dari beras ketan dicampur gula merah. Bentuknya kecil, garing dan manis. Ada juga ukiran Toraja, yang bisa dibawa pulang dan jadikan oleh-oleh untuk sanak keluarga, sahabat dan mitra kerja Anda, seperti kain tenun, patung, golok, dan rumah-rumahan tongkonan dari yang kecil sampai yang besar. Harganya dijamin murah dan menjangkau dompet pengunjungnya. Jadi tunggu apa lagi, Bumi Lakipadada siap setiap saat menanti kunjungan Anda.


Yulianti/dari berbgai Sumber. Foto : Istimewa


Selasa, 03 Maret 2009

Makassar Terkenal dengan ikan lautnya...



Sejak dahulu Makassar memang terkenal dengan makanan lautnya. ini dapat dilihat dari menu-menu makanan yang tersedia di beberapa daerah dari kota  ini, beraneka ragam menu hidangan laut dengan berbagai citarasa dapat dijumpai dengan mudah dan murah.

tidak saja itu hasil laut dalam bentuk mentah bisa dijumpai dengan mudah di daerah ini antara lain di barombong atau di sekitaran pelabuhan makassar, pannampu yang juga masih dalam lingkup kota makassar.

ikan-ikan dari daerah  makassar selain di konsumsi sendiri juga di export keluar daerah dalam bentuk kering. ikan yang terkenal antara lain ikan sunu, bolu, cakalang dll.

tidak cukup afdhol jika berkunjung ke makassar tanpa mencicipi hidangan lautnya....

-----

ariel

Jumat, 13 Februari 2009

Kerajaan Gowa

1. Sejarah



Menurut mitologi, sebelum kedatangan Tomanurung di tempat yang kemudian menjadi bagian dari wilayah kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang disebut Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang (gabungan/federasi). Sembilan pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada awalnya, kesembilan pemerintahan otonom ini hidup berdampingan dengan damai, namun, lama kelamaan, muncul perselisihan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan keperkasaan dan semangat ekspansi. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan otonom ini kemudian sepakat memilih seorang pemimpin di antara mereka yang diberi gelar Paccallaya. Ternyata rivalitas tidak berakhir dengan kesepakan ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi ketua Bate Selapang. Di samping itu, Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa di suatu tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit Tamalate, hadir seorang putri yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang indah.
Mendengar ada seorang putri di Taka Basia, Paccallaya dan Bate Salapang mendatangi tempat itu, duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut. Lama-kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik, yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya. Oleh karena itu, mereka menyebutnya Tomanurung. Lalu, Paccallaya bersama Kasuwiyang Salapang berkata pada Tomanurung tersebut, “kami semua datang kemari untuk mengangkat engkau menjadi raja kami, sudilah engkau menetap di negeri kami dan sombaku lah yang merajai kami”. Setelah permohonan mereka dikabulkan, Paccallaya bangkit dan berseru, “Sombai Karaeng Nu To Gowa (sembahlah rajamu wahai orang-orang Gowa).

Tidak lama kemudian, datanglah dua orang pemuda yang bernama Karaeng Bayo dan Lakipadada, masing-masing membawa sebilah kelewang. Paccallaya dan kasuwiyang kemudian mengutarakan maksud mereka, agar Karaeng Bayo dan Tomanurung dapat dinikahkan agar keturunan mereka bisa melanjutkan pemerintahan kerajaan Gowa. Kemudain semua pihak di situ membuat suatu ikrar yang intinya mengatur hak, wewenang dan kewajiban orang yang memerintah dan diperintah. Ketentuan tersebut berlaku hingga Tomanurung dan Karaeng Bayo menghilang, ketika anak tunggal mereka Tumassalangga Baraya lahir. Anak tunggal inlah yang selanjutnya mewarisi kerajaan Gowa.



Kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya pada abad XVI yang lebih populer dengan sebutan kerajaan kembar “Gowa-Tallo” atau disebut pula zusterstaten (kerajaan bersaudara). Kerajaan Dwi-Tunggal ini terbentuk pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumaparissi Klonna (1510-1545), dan ini sangat sulit dipisahkan karena kedua kerajaan telah menyatakan ikrar bersama, yang terkenal dalam pribahasa “Rua Karaeng Na Se’re Ata” (“Dua Raja tetapai satu rakyat”). Oleh karena itu, kesatuan dua kerajaan itu disebut Kerajaan Makassar.

Masa kejayaan Kerajaan Gowa tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang, Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa 1639-1654. Nama lengkapnya adalah I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud, putra Raja Tallo VII, Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matowaya. Sewaktu Raja Tallo I Mappaijo Daeng Manyuru diangkat menjadi raja Tallo, usianya baru satu tahun. Karaeng Pattingalloang diangkat untuk menjalankan kekuasaannya sampai I Mappoijo cukup usia. Oleh karena itu dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang adalah Raja Tallo IX.

Karaeng Pattingalloang diangkat menjadi sebagai Mengkubumi Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1639-1654, mendampingi Sultan Malikussaid, yang memerintah pada tahun 1639-1653. Karaeng Pattingalloang, dilantik menjadi Tumabbicara Butta Kerajaan pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 1639. Jabatan itu didapatkannya setelah ia menggantikan ayahnya Karaeng Matowaya. Pada saat ini menjabat Mangkubumi, Karajaan Makassar telah menjadi sebuah kerajaan terkenal dan banyak mengundang perhatian negeri-negeri lainnya.

Karaeng Pattingalloang adalah putra Gowa yang kepandaiannya atau kecakapannya melebihi orang-orang Bugis Makassar pada umumnya. Dalam usia 18 tahun ia telah menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Latin, Yunani, Itali, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Selain itu juga memperdalam ilmu falak. Pemerintah Belanda melalui wakil-wakilnya di Batavia di tahun 1652 menghadiahkan sebuah bola dunia (globe) yang khusus dibuat di negeri Belanda, yang diperkirakan harganya f 12.000. Beliau meninggal pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bontobiraeng. Sebelum meninggalnya ia telah mempersiapkan 500 buah kapal yang masing-masing dapat memuat 50 awak untuk menyerang Ambon.

Karaeng Pattingolloang adalah juga seorang pengusaha internasional, beliau bersama dengan Sultan Malikussaid berkongsi dengan pengusaha besar Pedero La Matta, Konsultan dagang Spanyol di Bandar Somba Opu, serta dengan seorang pelaut ulung Portugis yang bernama Fransisco Viera dengan Figheiro, untuk berdagang di dalam negeri. Karaeng Pattingalloang berhasil mengembangkan/meningkatkan perekonomian dan perdagangan Kerajaan Gowa. Di kota Raya Somba Opu, banyak diperdagangkan kain sutra, keramik Cina, kain katun India, kayu Cendana Timor, rempah-rempah Maluku, dan Intan Berlian Borneo.

Pada pedagang-pedagang Eropa yang datang ke Makassar biasanya membawa buah tangan yang diberikan kepada para pembesar dan bangsawan-bangsawan di Kerajaan Gowa. Buah tangan itu kerap kali juga disesuaikan dengan pesan yang dititipkan ketika mereka kembali ke tempat asalnya. Karaeng Pattingalloang ketika diminta buah tangan apa yang diinginkannya, jawabnya adalah buku. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Karaeng Pattingalloang memiliki banyak koleksi buku dari berbagai bahasa.

Karaeng Pattingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:

“Wiens aldoor snuffelende brein
Een gansche werelt valt te klein”

Yang artinya sebagai berikut:

“Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.

Karaeng Patingalloang tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masa lalu. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau pernah berpesan untuk generasi yang ditinggalkan antara lain sebagai berikut:

Ada lima penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu:



1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Mangguka,
2. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang Pa’rasangnga,
3. Punna taenamo gau lompo ri lalang Pa’rasanganga,
4. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya, dan
5. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Mangguka.

Yang artinya sebagai berikut :

1. Apabila raja yang memerintah tidak mau lagi dinasehati atau diperingati,
2. Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri,
3. Apabila sudah terlampau banyak kasus-kasus di dalam negeri,
4. Apabila sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok, dan
5. Apabila raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya.





Beliau wafat ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda. Setelah wafatnya, ia kemudian mendapat sebutan “Tumenanga ri Bonto Biraeng”.

Dari sudut pandang terminologi, belum ada kesempatan (konsensus) arti kata Gowa yang menjelaskan secara utuh asal-usul kata serapan Gowa. Arti yang ada hanyalah asumsi dan perkiraan antara lain: pertama, kata Gowa berasal dari “goari”, yang berarti kamar atau bilik/perhimpun; kedua, berasal dari kata “gua”, yang berarti liang yang berkait dengan tempat kemunculan awal Tomanurung ri Gowa (Raja Gowa I) di gua/perbukitan Taka Bassia, Tamalate (dalam bahasa Makassar artinya tidak layu) yang kemudian secara politik kata Gowa dipakai untuk mengintegrasikan kesembilan kasuwiang (Bate Salapang) yang bersifat federasi di bawah paccallaya, yang kemudian menjadi kekuasaan tunggal Tomanurung, sehingga leburlah Bate Salapang menjadi Kerajaan “Gowa” yang diperkirakan berdiri pada abad XIII (1320).

Sampai masa kekuasaan Raja Gowa VIII I Pakere’ Tau Tunnijallo ri Passukki, pemerintahan kerajaan dipusatkan di Taka Bassia (Tamalate) sebagai istana Raja Gowa I. Kemudian istana raja ini dipindahkan ke Somba Opu oleh Raja Gowa IX Daeng Mantare Karaeng Mengunungi yang bergelar Tumapa’risi Kallonna karena dianggap lebih menguntungkan dan strategis sebagai kerajaan yang maju di bidang ekonomi dan politik. Pada masa inilah Kerajaan Gowa mulai memperluas kekuasaannya dan menaklukkan berbagai daerah sekitarnya termasuk menjalin hubungan kerjasama dan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lain. Hal ini berlangsung sampai Raja Gowa XII, I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto Langkasa (1565-1590). Ambisi itulah yang menjadikan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi kerajaan besar. Bandar yang dimilikinya menjadi bandar persinggahan niaga dunia yang sangat maju karena telah memiliki berbagai fasilitas sebagaimana layaknya negara-negara besar lain di abad XVI dan XVII. Pada waktu itu pemerintah menjalankan sistem politik terbuka berdasarkan teori Mare Leberum (laut bebas) yang memberi jamina usaha para pedagang asing. Akan tetapi, ambisi itu pula yang menciptakan persaingan yang bersifat terselubung (laten) ketika ingin memegang hegomoni dan zuserenitas di Sulewasi, terutama persaingannya dengan Kerajaan Bone. Ketika persaingan itu memuncak, Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan melancarkan politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) serta menerapkan sistem monopoli yang sangat bertentangan dengan prinsip mare liberum hingga meletusnya perang Makassar (1666-1669).





Di sisi lain, agama Islam salah satu alasan perlawanan Bone ketika Gowa berusaha mengintroduksi agama Islam. Usaha itu diprakarsai oleh Raja Gowa XV I Mangerangi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (1593-1639) yang menjadi muslim pada tanggal 9 Jumadil 1051 H atau 20 September 1605. Beliau berusaha mewujudkan penyatuan Sulawesi tetapi tidak terealisir sampai masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669) yang berakhir dengan Pernjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 setelah Perang Makassar.

Selasa, 02 Desember 2008

Suasana Lebaran Di Makassar

berikut ini beberapa gambar suasana lebaran dimakassar







______________________
ariel/
fotografer : Ansar Haris- Herdian ( Makassar Terkini)

Senin, 17 November 2008

Nyamanna Mancing di Pantai Losari



Pantai Losari merupakan ikon kebanggaan kota makassar, pantai ini tidak pernah sepi selama 24 jam .. dan menjadi tujuan bagi masyarakat makassar semua umur.



saat ini pantai losari mulai mendapat perhatian dari pemkot khusux maslah revitaslisasi.



salah satu kegiatan yang banayk dilihat dipantai losari antara lain kegiatan mancing sambil menikmati sunset.



kegiatan ini biasanya dimulai sekitar pukul 4 sore.. buat yg mau jalan2 atau sekedar habiskan waktu bisa datang ketempat ini.

-------------
ariel/fotografer : herdian

Senin, 29 September 2008

Buat Ketupat Lebaran Sendiri Yuk…

Disulawesi Selatan Ketupat merupakan menu umum disaat lebaran. ketupat adalah makanan pengganti nasi yang biasa menjadi makanan sehari-hari penduduk sulawesi selatan disaat hari raya idulfitri. makanan ini sering dimakan bersamaan lauk kari ayam atau makanan berkuah khas lainnya.


bahan baku ketupat sendiri adalah beras. so apa bedanya dengan nasi ??.. ketupat sendiri dibuat dari beras tapi dibungkus dengan menggunakan daun kelapa atau daun pandan (terserah pilih yang mana ). jika menggunakan daun pandan, maka aroma wangi khas pandan akan menjadi ciri khas dari ketupat anda. selain itu jika menggunakan daun pandan ukurannya bisa menjadi agak besar.


jika menggunakan daun kelapa ketupat yang dihasilkan tidak sewangi menggunakan daun pandan, tapi ukuran yang didapat lebih seragam, itulah mengapa di penjual coto makassar menggunakan daun kelapa sebagai kulit dari ketupat mereka. ooh iya ngk usah berlama-lama lagi  berikut cara pembuatan ketupat itu sendiri. Pertama siapkan bahan-bahan dan alat-alatnya


Bahan :



  1. Beberapa lembar daun kelapa atau pandan, potong menyerupai sebuah pita sepanjang 1 meter atau lebih dengan lebar sekitar 3 cm.


  2. Beras, secukupnya


  3. Air, untuk memasak


Alat :



  1. Kompor untuk memasak


  2. Pisau untuk memotong daun kelapa atau pandan


  3. Panci untuk memasak


Cara membuatnya sebagai berikut :


Pertama buat kulit ketupatnya adapun langkah-langkahnya sebagai berikut










































Langkah pertama, gulung janur sampai tiga kali gulungan pada tangan anda dengan posisi pangkal janur menghadap ke atas.
Ambil janur satu lagi, gulungkan juga pada tangan anda sebanyak tiga kali. Namun kali ini posisi pangkal janur menghadap ke bawah.
Buatlah kedua gulungan janur tapi saling bersilangan. Namun janur harus tetap dalam posisi tergulung.
Ambil salah satu ujung janur dan putar ke belakang susunan janur tadi.
Masukkan ujung janur yang sudah diputar ke belakang tadi, ke janur yang berada pada posisi tengah. Cara memasukkan janur tersebut seperti mengayam.
Teruskan ayaman tadi sampai bawah. Lakukan hal yang sama pada ujung janur yang satunya lagi.
Pangkal janur yang sudah terletak di samping, langsung bisa diayam ke atas. Lakukan hal ini pada kedua pangkal janur hingga bertemu di bagian atas ketupat.
Kencangkan semua ujung –ujung dari daunnya, hingga membentuk gambar seperti disamping


Selanjutnya isi kulit ketupat dengan beras yang telah dicuci sebelumnya. Dengan ukuran ½ dari besarnya ketupat. Rebus air dalam panci besar hingga mendidih. Masukkan satu persatu ketupat yang telah di buat tadi kedalam panci yang berisi air panas tadi. Biasanya ketupat dimaska berkisar 5-jam. Sesekali ditambahkan air jika panci yang berisi air tadi berkurang. Lakukan sampai ketupatnya benar-benar matang. Yaitu jika di tekan… ketupatnya akan terasa keras.


Jika ketupatnya telah matang angkat, tiriskan dan dingingkan. Ketupat dapat disajikan dalam keadaan dingin dan dicampur dengan masakan berkuah lainnya setelah dipotong-potong.. selamat mencoba


(ariel)

Selasa, 23 September 2008

nelayan makassar yang kian tersisih...


Nelayan Makassar memang sudah jarang dijumpai di Makassar, walaupun kita berada dipantai di Makassar, Pantai Losari, Tanjung Bayang dsb... betewe mareka semua pada kemana ya... 

mereka kini kebnaykan bermukim di daerah-daerah yang kian tersisih oleh pembangunan di Makassar. mereka kebanyakan tinggal didaerah-daerah sudut kota makassar. seperti di barombong, pulau-pulau kecil di sekitar laut makasssar, sampai di daerah galangan kapal. 

walaupun kebenyakan masyarakat ada yang bermukim di pinggir pantai, tidak semua dari mereka yang berprofesi utama sebagai nelayan.

pada umumnya sistem pengolahan hasil tangkapan mereka masih secara tradisional, mungkin ada baiknya pemerintah kota bisa memperhatikan juga nasib mereka..

trims /ariel

Sabtu, 20 September 2008

Buroncong, penganan khas makassar saat sarapan


Buroncong merupakan salah satu penganan khas kota makassar. menu ini biasanya dihidangkan dipagi hari dalam kondisi hangat bersama teh manis atau kopi. klo ngk sempat buat penganan ini bisa juga didapatkan dengan mudah di sekitaran penjual2 kue atau penjual khusus buroncong yang dijajakan tiap pagi meggunkan gerobak.

penganan ini terbuat dari tepung terigu, parutan kelapa (pilih kelapa yang berukuran muda, buang kulit kasarnya) gula pasir(putih), soda kue, dan sedikit garam . semua bahan disatukan dalam satu adonan diaduk hingga rata dengan air. adonannya biasanya agak encer.

setelah adonan siap. masukkan delam cetakan buroncong yang telah dipanaskan dengan bara api, jangan lupa olesi dulu cetakannya dengan minyak kelapa menggunakan kuas atau daun pisang agar adonannya tidak lengket.  paling enak kalau bahan bakarnya kayu arang. setelah adonannya kelihatan mengembang dan pinngirannya agak berwarna coklat pertanda kue buroncongnya sudah jadi. nah siap diangkat menggunakan gancu (biasanya tukan buroncong ahli memainkan ini). dan siap di makan buat sarapan bersama teh hangat.

klo ngk sempat buat sendiri, di makassar kue ini umum kok terutama di pagi hari, harganya juga murah meriah sekitar Rp.300,-. rasa dari buroncong ini  juga bervariasi, tergantung penjualnya. terkadang ada juga yang agak asin, terlalu manis dan bahkan ada yang tidak menggunakan gula pasir tetapi pemanis buatan. udah dulu ya... selamat menikmati menu buroncong.. :)

Ariel

_______

Selasa, 16 September 2008

Es Pisang Ijo makanan khas berbuka orang makassar



Pisang Ijo merupakan makanan khas orang makassar. menu ini umum ditemukan di makassar pada saat bulan ramadhan. . makanan ini adalah mirip dengan salah satu menu makanan lain di makassar, yaitu pallu butung, bedanya klo pallu butung pisangnya  ngk ditutupi dengan  kulit tepung  yang berwarna hijau . walaupun kedua menu ini sama -sama berbahan dasar pisang.

adapun cara membuat pisang ijo sebagai berikut : 

_________________________

Bahan-Bahan :
40 gram tepung beras
1/2 sendok teh garam
300 ml air
100 ml air daun suji
3 tetes pewarna hijau
175 gram tepung beras
5 buah pisang raja yang tua
es serut
sirup merah (rasa pisang ambon)
650 ml santan(bahan saus)
50 gram tepungh terigu(bahan saus)
75 gram gula pasir(bahan saus)
1 lembar daun pandan(bahan saus)
1/4 sendok teh garam(bahan saus

10 sendok teh kacang tanah sangrai yang sudah digiling kasar

____________________________
Cara Mengolah :
1. Aduk tepung beras, garam, air, air daun suji, pewarna hijau lalu rebus
sambil diaduk sampai mendidih, angkat.
2. Tambahkan tepung beras, aduk rata lalu aduk lagi sampai kalis(tidak
lengket). Tipiskan adonan, balutkan pada pisang hingga tertutup.
3. Kukus pisang selama 20 menit. Angkat dan sisihkan.
4. Rebus bahan saus sampai mendidih, angkat lalu dinginkan.
5. Potong-potong pisang hijau, tuangkan saus, es serut, dan sirup merah.

6. taburkan kacang tanah yang telah digiling kasar.

______________________________

klo bulan puasa menu ini banyak di sekitaran pantai losari, n pasar2 tradisional di makassar

Selasa, 09 September 2008

Download Foto-foto Makassar Zaman Dulu II

Berikut ini Foto Makassar Zaman dulu.. buat yang mau download silahkan klik link dibawah ini

 



 

http://www.flickr.com/photos/ariel4ever/sets/72157607208070292/

Thanku 4 visiting... :)

Coto Makassar, makanan Khas orang makassar


Keberadaan Coto Makassar diawal kemunculannya masih menjadi pertanyaan besar, dimana dan sejak kapan coto makassar ini pertama kali di hidangkan. Coto makassar sendiri merupakan hidangan yang tergolong seni ketata bogaan yang sangat tinggi, yang tergolong sebagai makanan rakyat biasa atau umum. Namun coto makassar ini pula sering menjadi hidangan bagi kalangan istana di kerajaan Gowa dahulu.

 

Coto Makassar diduga pula telah ada sejak Somba Opu (pusat Kerajaan Gowa) berjaya pada tahun 1538 hingga terhidangkan dalam bentuk warung-warung yang ada sekarang dibeberapa pinggiran jalan. Sajian coto makassar diduga terpengaruh pula oleh makanan cina yang telah datang di abad 16, ini terlihat dari sambal yang digunakan yakni sambal tao-co merupakan bagian dari ketata bogaan Cina yang mempengaruhi budaya ketata bogaan Makassar,

 

Hidangan coto makassar ini, dalam aliran modern digolongkan sebagai hidangan sup. Bila dalam tradisi sejarah masyarakat Eropa yang muncul pada era sebelum revolusi industri di Inggris, sup disandingkan dengan roti sebagai pengganjal perut di malam hari. Maka Coto Makassar juga telah menjadi makanan bagi para pengawal kerajaan untuk mengisi perut di subuh hari sebelum bertugas dipagi harinya.

 



Coto Makassar pun dianggap hambar bila tak diiringi dengan ketupat atau burasa. Keenakan menikmati coto makassar tak terlepas pula dari tradisi peramuaanya yang secara khusus diolah dalam kuali tanah yang disebut: korong butta atau uring butta dan dengan rampah patang pulo (40 macam rempah) yang terdiri dari kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sere yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seldri, daun prei, lombok merah, lombok hijau, gula talla, asam, kayu manis, garam, papaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jerohan.

 

Khasnya rasa dari kentalnya coto Makassar dari ramuan rempahnya yang juga berfungsi sebagai penawar zat kolesterol yang terdapat dalam hati, babat, jantung, limpah dsb. Rasa khas inilah yang menurut dugaan bahwak keberadaan soto babat dari Madura, soto Tegal, soto Betawi, terinspirasi dari coto makassar karena dahulu dibawa oleh para pelaut kedaerah tempa tsoto yang lain berada sehingga diduga bahwa coto Makassar itu "lebih tua" dari pada soto di persada Nusantara ini.

 

Di Makassar, Coto disajikan dengan harga yang beragam. Dari mulai Rp. 3.500,- per mangkuk hingga Rp. 7.000,-, tergantung kelas si pedagang. Beberapa pedagang Coto yang paling terkenal seperti Coto Gagak, Coto Latimojong dan Coto Paraikatte biasanya sudah dipadati pengunjung sejak pagi hari sekitar pukul 7. Warung-warung Coto ini biasanya buka hingga malam. Ada juga beberapa warung yang mengambil spesialisasi buka di malam hari hingga pagi hari tiba, namanya Coto Bagadang (begadang). Waktu yang paling tepat untuk menyantap Coto memang adalah di pagi hari hingga siang hari, atau malam hingga tengah malam. Tapi itu bukan patokan utama, karena Coto sebenarnya bisa disantap kapan saja.

Resep Coto Makassar Klik disini : http://southcelebes.wordpress.com/2008/09/10/resep-coto-makassar/

Ariel /Fotografer : Ansar Haris MT,
dari berbagai sumber

Jumat, 15 Agustus 2008

Download Foto-foto Makassar Zaman Dulu

berikut ini foto-foto makassar zaman dulu..


De Javasche Bank te Makassar 1920


BANTIMURUNG 1830


Drie vrouwen en een man uit Makassar 1900



De kust te Makassar 1920


1940


BOLEVAR MKSR1920


Celebesmuseum te Makassar



updatex ada disni ya :

 http://southcelebes.wordpress.com/2008/09/10/download-foto-foto-makassar-zaman-dulu-ii/