Hasil Pencarian

Pencarian

Tampilkan postingan dengan label society. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label society. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Agustus 2010

Suasana pantai Losari di hari minggu pagi

Pantai losari lagi.. kaya'x blog ini banyak sekali mengulas tentang pantai losari.. ha3x.. hmm gak apa apa.. klo yang tulisan ini cerita bergambar ngk banyk tulisannya deh.. ok kita mulai saja. sekarang .
.

dihari minggu pagi pantai losari di tujukan khusus untuk pejalan kaki. jadi pengendara kendaraan bermotor dilarang masuk. eiittss disana banyak penjual mainan anak-anak juga lho, pedagan asongan yang unik-unik juga ada.

.

Ada Penjual Kue Buroncong

.

Bisanya ada kegiatan gerak jalan oleh instansi tertentu. senam, atau olahraga lain.

.

ada penjual pisang epe' juga.. ;)

.

kalau Tukang Becak Boleh Masuk  kawasan pantai losari coy

.

odong-odong juga bol;eh masuk kawasan

.

jalan jadi sepi dari kendaraan bermotor.

.

ada juga penjual makanan sarapan  :  bubur ayam, bubur beras hitam, dll
.
eeiittsss.... ada pengemisnya juga lho...
kalau penasaran, pada hari minggu jangan lupa ke pantaoi losari.. oK.. met jumpa disana ya.. he3x...

ariel4ever...

Sabtu, 07 Maret 2009

Meneropong Indahnya Wisata Alam dan Budaya di Bumi Lakipadada, Toraja




Bertandang ke Sulawesi Selatan, tak lengkap rasanya tanpa mampir ke Bumi Lakipadada, Tana Toraja. Daerah primadona wisata Sulsel ini juga dijuluki surganya wisata alam dan budaya, karena memiliki kekayaan dan keindahan obyek wisata budaya yang termasyhur dan tidak tertandingi di dunia.


Wilayah Tana Toraja memiliki luas 3.205,77 km2, terdiri dari 15 kecamatan, 116 lembang (desa), dan 27 kelurahan. Sekalipun di kabupaten ini telah terjadi pemekaran wilayah, yakni pemisahan antara Kabupaten Toraja dengan Toraja Utara tahun 2008 kemarin, tidak mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke Bumi Lakipadada ini.




Kondisi topografi Tana Toraja berada di daerah pegunungan, berbukit dan berlembah. Yang mana areanya terdiri dari 40% pegunungan dengan ketinggian antara 150 m s/d 3.083 m di atas permukaan laut (dataran tinggi 20%, dataran rendah 38%, rawa-rawa dan sungai 2%). Bagian terendah kabupaten ini, berada di Kecamatan Bonggakaradeng dan tertinggi Kecamatan Rindinggallo. Kondisi tersebut menjadikan kabupaten ini kaya akan keragaman obyek wisata alam dan budaya yang hingga kini tetap terjaga dan terpelihara.





Mengunjungi Tana Toraja, utamanya obyek-obyek wisatanya akan membuat Anda berdecak kagum. Karena seperti yang diketahu, daerah ini memiliki kekayaan budaya warisan leluhur yang tidak akan dijumpai di belahan bumi lain selain di Tana Toraja. Suguhan tempat wisata alam dan budaya yang dapat Anda saksikan jika berkunjung di daerah ana



Toraja, antara lain obyek wisata Kambira (kuburan pohon khusus bayi), Londa, Kete Ke’su, Batutumonga, Lemo Buntang, Bori, Lo’ko Mata, Perkampungan Buntao, Nanggala, Marante, Pekampungan Seni Ukir, arum jeram di Sungai Sa’dan, dusun Patane dan keragaman budaya upacara kematian (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka), Silaga Tedong atau pun atraksi Sisemba (adu kaki).


Wisata Alam dan Budaya



Kambira (Kuburan Bayi di dalam Pohon)



Obyek wisata satu ini sangat unik, karena jenazah bayi yang sudah meninggal dimasukkan ke batang pohon. Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi, dengan ketentuan lubang tidak boleh menghadap ke arah kediaman keluarga yang meninggal. Mayat bayi lalu diletakkan ke dalam, dan ditutupi dengan serat pohon dari bahan pelepas enau (kulimbang ijuk). Pengunjung yang bertanda di perkampungan ini, bisa melihat langsung kuburan para bayi yang dimakamkan di atas pohon. Pohon tersebut bernama Tarra, pohon yang menyerupai pohon buah sukun dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter. Pohon ini telah berumur sekitar 300 tahun dan tersimpan puluhan jenazah bayi berusia 0-7 tahun di dalamnya. Obyek wisata Kambira berada di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Kota Rantepao. Saat ini pohon tempat menyimpan mayat bayi tersebut sudah tidak digunakan lagi. Namun pohon Tara tersebut masih terlihat tegak berdiri, sehingga menjadi data tarik yang banyak dikunjungi wisatawan lokal mau pun mancanegara.




Dusun Patane




Tempat wisata ini menarik untuk dikunjungi. Karena dapat dijumpai setiap kali kita melewati beberapa dusun atau perkampungan warga. Patane adalah kuburan dari kayu yang berbentuk rumah Toraja. Biasanya dalam satu dusun, memiliki area Patane yang memang sudah dipersiapkan secara berkelompok. Di mana satu Patane, biasanya digunakan oleh satu keluargga yang akan menyimpan mayat keluarganya didalam lebih dari satu jenazah, bahkan biasa ada yang lebih dari lima jenazah. Dan itu dilakukan warga dengan ketentuan kelompok yang mereka buat tersendiri, yang juga disesuaikan dengan kesetaraan status sosial berkelompok yang berbeda-beda. Misalnya Patane Pong Massangka yang merupakan turunan bangsawan, di makamkan di dalam Patane, yang dilengkapi dengan patung (tau-tau) dirinya, terbuat dari kayu. Obyek wisata ini menjadi keunikan tersendiri buat wisatawan domestik dan mancanegara, yang selalu menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Patane.





Lokomata




Obyek wisata ini disebut Lokomata, karena berbentuk bulat dan menyerupai kepala manusia. Batu raksasa alam ini digunakan sebagai liang (kuburan) oleh masyarakat yang bermukim di sekitar Desa Pangden, dengan cara membuat lubang pada baru raksasa. Ukuran lubang disesuaikan dengan ukuran peti jenazah yang nantinya akan di masukkan ke dalang liang. Lokasi Lokomata berada di desa Pangden ±30 km dari Kota Rantepao, atau berada di lereng Gunung Sesean, dengan ketinggian kurang lebih 1.400 meter di atas permukaan laut. Tempat wisata ini begitu unik, menawan, dan fantastik untuk dikunjungi. Karena selain melihat liang, pengunjung juga disuguhkan panorama alam yang begitu indah, serta deru arus sungai di bawah kaki kuburan terlihat begitu alami.




Sungai Sa’dan, Mai’ting, Maulu dan Ma’dong




Arus air di sungai ini diakui sangat menarik. Karena para wisatawan dapat melakukan wisata alam, yakni arung jeram secara alami. Segala fasilitas dan perlengkapan arung jeram dapat disewa di seputaran sungai. Tentu saja dengan tarif yang terjangkau bagi pengunjung.




Permandian Makula dan Air Terjung Ranteballa




Obyek wisata air panas Makula berada tidak jauh dari Kota Rantepao, jaraknya sekitar 28 km. Di tempat ini tersedia kolam anak dan dewasa yang dapat digunakan untuk berendam air panas setelah perjalanan jauh atau lelah mengunjungi beberapa obyek wisata yang ada di Rantepao. Untuk masuk ke Makulan pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000 (dewasa) dan Rp 5.000 (anak-anak).



Selain permandian air panas Makula, juga ada air terjun asin di Kampung Ranteballa, Kecamatan Bittuang. Menariknya air terjun itu terbilang langka. Pasalnya selain tingginya mencapai sekitar 50 meter, debit airnya juga tidak pernah berkurang sekalipun musim kemarau. Airnya ini sangat sejuk dan asri. Kedua obyek ini, sangat ayik dinikmati sehabis berkunjung ke obyek wisata Kambira, Dusun Patena, Lokomata dan bermain arung jeram.






Wisata Unik dan Menghibur





Selain beberapa obyek wisata yang dapat Anda kunjungi di Tana Toraja, keragaman atraksi wisata juga menjadi daya tarik unik dan menghibur bagi wisatawan yang berkunjung. Seperti dapat menyaksikan upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun, tidak terkecuali di program kolosal dari Pemprov Sulsel, yakni Lovely Desember yang baru-baru diadakan tahun 2008 kemarin. Selain mengunjungi wisata di upacara kematian rambu solo dan rambu tuka, ada juga atraksi Sisemba dan Silaga Todong. Dalam atraksi ini, puluhan pemuda Tana Toraja, berseragam putih dan biru saling serang dengan menggunakan kaki. Aksi ini bukanlah tawuran, melainkan sebuah seni beladiri masyarakat Tana Torja yang unik. Dimana kaki kedua kelompok saling beradu, mengejar, dan kembali beradu kaki. Biasanya atraksi Sisemba, ditampilkan secara massal di perayaan pesta panen atau pesta kematian.






Suvenir Khas Toraja




Setelah menikmati keindahan panorama obyek wisata alam dan budaya, Anda bisa mampir di toko-toko pada pusat Kota Rantepao untuk membeli beragam cinderamata dan makanan khas Toraja, seperti Depa Tori, makanan yang terbuat dari beras ketan dicampur gula merah. Bentuknya kecil, garing dan manis. Ada juga ukiran Toraja, yang bisa dibawa pulang dan jadikan oleh-oleh untuk sanak keluarga, sahabat dan mitra kerja Anda, seperti kain tenun, patung, golok, dan rumah-rumahan tongkonan dari yang kecil sampai yang besar. Harganya dijamin murah dan menjangkau dompet pengunjungnya. Jadi tunggu apa lagi, Bumi Lakipadada siap setiap saat menanti kunjungan Anda.


Yulianti/dari berbgai Sumber. Foto : Istimewa


Jumat, 13 Februari 2009

Kerajaan Gowa

1. Sejarah



Menurut mitologi, sebelum kedatangan Tomanurung di tempat yang kemudian menjadi bagian dari wilayah kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang disebut Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang (gabungan/federasi). Sembilan pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada awalnya, kesembilan pemerintahan otonom ini hidup berdampingan dengan damai, namun, lama kelamaan, muncul perselisihan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan keperkasaan dan semangat ekspansi. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan otonom ini kemudian sepakat memilih seorang pemimpin di antara mereka yang diberi gelar Paccallaya. Ternyata rivalitas tidak berakhir dengan kesepakan ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi ketua Bate Selapang. Di samping itu, Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa di suatu tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit Tamalate, hadir seorang putri yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang indah.
Mendengar ada seorang putri di Taka Basia, Paccallaya dan Bate Salapang mendatangi tempat itu, duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut. Lama-kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik, yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya. Oleh karena itu, mereka menyebutnya Tomanurung. Lalu, Paccallaya bersama Kasuwiyang Salapang berkata pada Tomanurung tersebut, “kami semua datang kemari untuk mengangkat engkau menjadi raja kami, sudilah engkau menetap di negeri kami dan sombaku lah yang merajai kami”. Setelah permohonan mereka dikabulkan, Paccallaya bangkit dan berseru, “Sombai Karaeng Nu To Gowa (sembahlah rajamu wahai orang-orang Gowa).

Tidak lama kemudian, datanglah dua orang pemuda yang bernama Karaeng Bayo dan Lakipadada, masing-masing membawa sebilah kelewang. Paccallaya dan kasuwiyang kemudian mengutarakan maksud mereka, agar Karaeng Bayo dan Tomanurung dapat dinikahkan agar keturunan mereka bisa melanjutkan pemerintahan kerajaan Gowa. Kemudain semua pihak di situ membuat suatu ikrar yang intinya mengatur hak, wewenang dan kewajiban orang yang memerintah dan diperintah. Ketentuan tersebut berlaku hingga Tomanurung dan Karaeng Bayo menghilang, ketika anak tunggal mereka Tumassalangga Baraya lahir. Anak tunggal inlah yang selanjutnya mewarisi kerajaan Gowa.



Kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya pada abad XVI yang lebih populer dengan sebutan kerajaan kembar “Gowa-Tallo” atau disebut pula zusterstaten (kerajaan bersaudara). Kerajaan Dwi-Tunggal ini terbentuk pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumaparissi Klonna (1510-1545), dan ini sangat sulit dipisahkan karena kedua kerajaan telah menyatakan ikrar bersama, yang terkenal dalam pribahasa “Rua Karaeng Na Se’re Ata” (“Dua Raja tetapai satu rakyat”). Oleh karena itu, kesatuan dua kerajaan itu disebut Kerajaan Makassar.

Masa kejayaan Kerajaan Gowa tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh Karaeng Patingalloang, Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa 1639-1654. Nama lengkapnya adalah I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud, putra Raja Tallo VII, Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matowaya. Sewaktu Raja Tallo I Mappaijo Daeng Manyuru diangkat menjadi raja Tallo, usianya baru satu tahun. Karaeng Pattingalloang diangkat untuk menjalankan kekuasaannya sampai I Mappoijo cukup usia. Oleh karena itu dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang adalah Raja Tallo IX.

Karaeng Pattingalloang diangkat menjadi sebagai Mengkubumi Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1639-1654, mendampingi Sultan Malikussaid, yang memerintah pada tahun 1639-1653. Karaeng Pattingalloang, dilantik menjadi Tumabbicara Butta Kerajaan pada hari Sabtu, tanggal 18 Juni 1639. Jabatan itu didapatkannya setelah ia menggantikan ayahnya Karaeng Matowaya. Pada saat ini menjabat Mangkubumi, Karajaan Makassar telah menjadi sebuah kerajaan terkenal dan banyak mengundang perhatian negeri-negeri lainnya.

Karaeng Pattingalloang adalah putra Gowa yang kepandaiannya atau kecakapannya melebihi orang-orang Bugis Makassar pada umumnya. Dalam usia 18 tahun ia telah menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Latin, Yunani, Itali, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Selain itu juga memperdalam ilmu falak. Pemerintah Belanda melalui wakil-wakilnya di Batavia di tahun 1652 menghadiahkan sebuah bola dunia (globe) yang khusus dibuat di negeri Belanda, yang diperkirakan harganya f 12.000. Beliau meninggal pada tanggal 17 September 1654 di Kampung Bontobiraeng. Sebelum meninggalnya ia telah mempersiapkan 500 buah kapal yang masing-masing dapat memuat 50 awak untuk menyerang Ambon.

Karaeng Pattingolloang adalah juga seorang pengusaha internasional, beliau bersama dengan Sultan Malikussaid berkongsi dengan pengusaha besar Pedero La Matta, Konsultan dagang Spanyol di Bandar Somba Opu, serta dengan seorang pelaut ulung Portugis yang bernama Fransisco Viera dengan Figheiro, untuk berdagang di dalam negeri. Karaeng Pattingalloang berhasil mengembangkan/meningkatkan perekonomian dan perdagangan Kerajaan Gowa. Di kota Raya Somba Opu, banyak diperdagangkan kain sutra, keramik Cina, kain katun India, kayu Cendana Timor, rempah-rempah Maluku, dan Intan Berlian Borneo.

Pada pedagang-pedagang Eropa yang datang ke Makassar biasanya membawa buah tangan yang diberikan kepada para pembesar dan bangsawan-bangsawan di Kerajaan Gowa. Buah tangan itu kerap kali juga disesuaikan dengan pesan yang dititipkan ketika mereka kembali ke tempat asalnya. Karaeng Pattingalloang ketika diminta buah tangan apa yang diinginkannya, jawabnya adalah buku. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Karaeng Pattingalloang memiliki banyak koleksi buku dari berbagai bahasa.

Karaeng Pattingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut:

“Wiens aldoor snuffelende brein
Een gansche werelt valt te klein”

Yang artinya sebagai berikut:

“Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.

Karaeng Patingalloang tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masa lalu. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau pernah berpesan untuk generasi yang ditinggalkan antara lain sebagai berikut:

Ada lima penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu:



1. Punna taenamo naero nipakainga’ Karaeng Mangguka,
2. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang Pa’rasangnga,
3. Punna taenamo gau lompo ri lalang Pa’rasanganga,
4. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya, dan
5. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Mangguka.

Yang artinya sebagai berikut :

1. Apabila raja yang memerintah tidak mau lagi dinasehati atau diperingati,
2. Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia di dalam negeri,
3. Apabila sudah terlampau banyak kasus-kasus di dalam negeri,
4. Apabila sudah banyak hakim dan pejabat kerajaan suka makan sogok, dan
5. Apabila raja yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya.





Beliau wafat ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda. Setelah wafatnya, ia kemudian mendapat sebutan “Tumenanga ri Bonto Biraeng”.

Dari sudut pandang terminologi, belum ada kesempatan (konsensus) arti kata Gowa yang menjelaskan secara utuh asal-usul kata serapan Gowa. Arti yang ada hanyalah asumsi dan perkiraan antara lain: pertama, kata Gowa berasal dari “goari”, yang berarti kamar atau bilik/perhimpun; kedua, berasal dari kata “gua”, yang berarti liang yang berkait dengan tempat kemunculan awal Tomanurung ri Gowa (Raja Gowa I) di gua/perbukitan Taka Bassia, Tamalate (dalam bahasa Makassar artinya tidak layu) yang kemudian secara politik kata Gowa dipakai untuk mengintegrasikan kesembilan kasuwiang (Bate Salapang) yang bersifat federasi di bawah paccallaya, yang kemudian menjadi kekuasaan tunggal Tomanurung, sehingga leburlah Bate Salapang menjadi Kerajaan “Gowa” yang diperkirakan berdiri pada abad XIII (1320).

Sampai masa kekuasaan Raja Gowa VIII I Pakere’ Tau Tunnijallo ri Passukki, pemerintahan kerajaan dipusatkan di Taka Bassia (Tamalate) sebagai istana Raja Gowa I. Kemudian istana raja ini dipindahkan ke Somba Opu oleh Raja Gowa IX Daeng Mantare Karaeng Mengunungi yang bergelar Tumapa’risi Kallonna karena dianggap lebih menguntungkan dan strategis sebagai kerajaan yang maju di bidang ekonomi dan politik. Pada masa inilah Kerajaan Gowa mulai memperluas kekuasaannya dan menaklukkan berbagai daerah sekitarnya termasuk menjalin hubungan kerjasama dan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lain. Hal ini berlangsung sampai Raja Gowa XII, I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto Langkasa (1565-1590). Ambisi itulah yang menjadikan Kerajaan Gowa-Tallo menjadi kerajaan besar. Bandar yang dimilikinya menjadi bandar persinggahan niaga dunia yang sangat maju karena telah memiliki berbagai fasilitas sebagaimana layaknya negara-negara besar lain di abad XVI dan XVII. Pada waktu itu pemerintah menjalankan sistem politik terbuka berdasarkan teori Mare Leberum (laut bebas) yang memberi jamina usaha para pedagang asing. Akan tetapi, ambisi itu pula yang menciptakan persaingan yang bersifat terselubung (laten) ketika ingin memegang hegomoni dan zuserenitas di Sulewasi, terutama persaingannya dengan Kerajaan Bone. Ketika persaingan itu memuncak, Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan melancarkan politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) serta menerapkan sistem monopoli yang sangat bertentangan dengan prinsip mare liberum hingga meletusnya perang Makassar (1666-1669).





Di sisi lain, agama Islam salah satu alasan perlawanan Bone ketika Gowa berusaha mengintroduksi agama Islam. Usaha itu diprakarsai oleh Raja Gowa XV I Mangerangi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (1593-1639) yang menjadi muslim pada tanggal 9 Jumadil 1051 H atau 20 September 1605. Beliau berusaha mewujudkan penyatuan Sulawesi tetapi tidak terealisir sampai masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669) yang berakhir dengan Pernjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 setelah Perang Makassar.

Selasa, 02 Desember 2008

Pengemis di Makassar, Pedulikah Anda ???



Pengemis di Kota Makassar Ternyata masih banyak. ada yang menetap disuatu tempat tertentu sampai yang nomaden mengelilingi seluruh penjuru kota makassar.



yang menetap kadang ada di mesjid atau tempat ibadah yang lain.


apakah ini merupakan sebuah profesi yang dipilih oleh mereka karena tertekan oleh hidup sehingga tidak ada pilihan lagi.



semoga pemerintah bisa memberikan jalan keluar masalah ini.

---------------------------------------
ariel/ fotografer : ansar (Makassar terkini)

Selasa, 23 September 2008

nelayan makassar yang kian tersisih...


Nelayan Makassar memang sudah jarang dijumpai di Makassar, walaupun kita berada dipantai di Makassar, Pantai Losari, Tanjung Bayang dsb... betewe mareka semua pada kemana ya... 

mereka kini kebnaykan bermukim di daerah-daerah yang kian tersisih oleh pembangunan di Makassar. mereka kebanyakan tinggal didaerah-daerah sudut kota makassar. seperti di barombong, pulau-pulau kecil di sekitar laut makasssar, sampai di daerah galangan kapal. 

walaupun kebenyakan masyarakat ada yang bermukim di pinggir pantai, tidak semua dari mereka yang berprofesi utama sebagai nelayan.

pada umumnya sistem pengolahan hasil tangkapan mereka masih secara tradisional, mungkin ada baiknya pemerintah kota bisa memperhatikan juga nasib mereka..

trims /ariel

Kamis, 18 September 2008

Apa kareba'na mangkasara'...

Belakangan Ini Kota Makassar menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. ini dapat dilihat dari bertumbuhnya pembangunan di Kota Ini. Pembangunan Sarana Perbelanjaan, sarana Publik dll.

_________________________________________________

MTC KArebosi Makassar

MTC Karebosi adalah Mall Pusat perbelanjaan di pusat kota Makassar, letakx diperempatan Jalan jendral Sudirman _Ahmad Yani. tempat ini merupakan sarana perbelanjaan paling strategis dan terlengkap di Makassar. Komputer, kebutuhan rumah tangga, hanphone, dll bisa didapatkan dengan mudah disini...

_________________________________________________

Al MArkaz Al Islami

merupakan pusat dakwah dan kegiatan islam dikawasan indonesia Timur. fasilitas dari tempat ini antara lain : perpustakaan islami, sekolah, lembaga dakwah, koperasi, tempat ibadah, sekolah, dan badan-badan islami lainnya.

_____________________________________________

Jl. Ratulangi Makassar

Jl Ratulangi Makassar merupakan salah satu jalan terpadat yang ada di Makassar, jalan ini juga merupakan jalur angkutan umum yang memiliki lebih dari 3 trayek.
_____________________________________________
Mall Ratu Indah


mall Ratu Indah merupakan Mall pertama di Makassar, letaknya di jalan ratulangi. mal ini merupakan sarana yang tepat untuk rekreasi rumah tangga. karena selain sarananya lengkap mulai dari tempat perbelanjaan hingga bisoskop juga letaknya yang strategis. tempat ini juga sering menjadi ajang pameran dn event2 besar di makassar.
______________________________________

Mall Panakkukang


Mall Panakkukang merupakan mal terlengkap dan terbesar yang ada dimakassar. letaknya ada di alan boulevard. sampai saat ini Mall ini masih dalam tahap perkembangan. sepertinya mall ini bakal merajai mall2 yang ada di makassar mendatang.

_______________________

Perahu Phinisi



Perahu Phinisi merupakan salah satu peninggalan budaya nenek moyang orang makassar. perahu ini sekarang masih dapat dilihat di pelabuhan2 makassar. seperti di pelabuhan Paotere" alt="" />

_______________________________________________
Pantai Losari


Pantai Losari merupakan Pantai kebanggan Kota Makassar, ditempat ini kita dapat menikmati sunset dan sunrise disatu tempat. ini merupakan tempat yang tidak pernah sepi dari pengunjung di Makassar.

_______________________________________________
Monument Mandala


Monument Mandala merupakan monument pembebasan irian barat yang dibangun dikota makassar, monument ini merupakan salah satu tempat bersejarah di makassar.

-------------------------
sarana perbelanjaan



sarana perbelanjan lengkap mulai tumbuh menjamur di makassar
_______________________
Benteng Rotterdam


Benteng Rotterdam merupakan kawasan bersejarah di Kota Makassar, benteng ini merupakan benteng peninggalan penjajahan belanda yang masih dirawat sampai sekarang. sekarang tempat ini menjadai museum dan tempat kegiatan pendidikan dan pengembangan pariwisata di Makassar.

__________________________
Masyarakat Pecinan



Masyarakat Pecinan sudah mulai membaur dengan masyarakat Asli. mereka dapat melakukan berabagai macam event bersama dengan masyarakat makassar. bersama membangun kebudayan makassar yang beraneka ragam.

_________________________

Tukang Becak


becak masih merupakan sarana Transportasi di Makassar. tapi hanya dibagian sudut kota tertentu saja seperti di pasar-pasar Tradisional. kemungkinan sarana ini bakal tergeser dimasa mendatang. untuk mendukung gerakan anti global warming mungkin ada baiknya sarana ini tidak dihilangkan.
________________________
Anak-anak Makassar


Sampai saat ini anak-anak makassar masih ada yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. penulis berharap pemkot dapat lebih memperhatikan mereka.
________________________

Sampah, sanitasi dan penanganan limbah

penanganan limbah dan sanitasi di makassar masih belum begitu baik. sampah dan air kotor masih merupakan objek yang akrab bagi warga makassar.

____________________________
Masyarakat Makassar



walaupun perkembangan di Kota Makassar makin pesat di bidang pembangunan masih ada saja yang belum merasakan dampak pembangunan seperti masyarakat kecil dipingiran Kota Makassar.
Pembangunan Kota Makassar hanya menyentuh warga kota makassar bagian menengah keatas. yang menjadi pertanyaan , kapan pembangunan dapat menyentuh warga miskin yang ada di Makassar. yang setiap hari mereka masih mesti harus memikirkan sewaktu-waktu mereka akan di gusur Oleh Pemkot tanpa mendapatkan solusi dari pemerintah.

________________________________

ariel/ foto By Fotografer Makassar terkini.

Jumat, 22 Agustus 2008

Anjungan Pantai Losari disulap Menjadi Pasar Malam



Foto Pantai Losari Saat baru Direnovasi :)

Bagi masyarakat sulawesi selatan, khusunya makassar ini mungkin sudah fenomena yang biasa... Pantai Losari yang dulunya dikenal  memiliki pedagang kaki lima terpanjang di indonesia kini telah berubah total.. para pedagang kaki lima sekarang sudah tidak bisa mangkal di daerah tsb. ini dikarenakan pemerintah menggusur mereka.. atau membebani mereka dengan pajak yang sangat tinggi. tapi tetap saja setelah pemerintah menggusur para pedagang kaki lima teresbut suatu fenomena lain muncul.. bukannya yang muncul pedangan kaki lima yang menuntut balas tapi berubah menjadi pasar malam, pengemis dan pengamen mewarnai daerah tersebut.


Foto Pantai Losari Sekarang :(

bukannya suasana yang aman tentram yang didapatkan jika berkunjung ke pantai Losari saat ini banyak sekali gelandangan yang memanfaatkan tempat tersebut sebagai sarana peristirahatan, pengamen yang banyak n rewel 2 :) minta duit .. he3x  juga mewarnai daerah tsb.

selain itu biaya parkir di pantai losari melonjak naik. biasax klo ditempat lain di makassar cuma bayar Rp.1000 untuk sepeda motor. klo dipantai losari bisa sampe Rp.2000,- selain itu petugas parkirnya juga tidak memberi bukti pembayaran karcisx,  trz parkirx berlaku 24 jam non stop  .. wah Pantai Losari bisa jadi ajang untuk cari penghasilan buat para tukang parkir.

mungkin ini bisa jadi pertimbangan bagi pemkot makassar /Ariel fotografer : Herdian