Hasil Pencarian

Pencarian

Senin, 11 Agustus 2008

maccera tappareng ritual menghormati mahluk penghuni danau tempe



Danau Tempe terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo. Tepatnya di Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae. Dari sungai ini, perjalanan ke Dananu Tempe dapat ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor (katinting). Perkampungan nelayan bernuansa Bugis berjejer di sepanjang tepi danau. Nelayan yang menangkap ikan di tengah danau seluas 13.000 hektare itu dengan latar belakang rumah terapung, merupakan pemandangan yang sangat menarik. Dari ketinggian, Danau Tempe tampak bagaikan sebuah baskom raksasa yang diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap.
Sambil bersantai di atas perahu, wisatawan dapat menyaksikan terbitnya matahari di ufuk Timur pada pagi hari dan terbenam di ufuk Barat pad sore hari. Di tengah danau, kita dapat menyaksikan beragam satwa burung, bungan dan rumput air, serta burung Belibis (Lawase, bahasa Bugis) menyambar ikan-ikan yang muncul di atas permukaan air. Danau Tempe memiliki species ikan air tawar yang jarang ditemui ditempat lain. Konon, dasar danau ini menyimpan sumber makanan ikan, yang diperkirakan ada kaitannya letak danau yang berada di atas lempengan dua benua, yaitu Australia dan Asia. Di waktu malam, wisatawan dapat menginap di rumah terapung. Bersama nelayan, kita dapat menyaksikan rembulan di malam hari yang menerangi Danau Tempe sambil memancing ikan. Sementara itu, para nelayan menangkap ikan diiringi dengan musik tradisional yang dimainkan penduduk. Tanggal 23 Agustus setiap tahunnya, merupakan kalender kegiatan pelaksanaan festival laut di Danau Tempe.


Setiap tanggal 23 Agustus diadakan festival laut di Danau Tempe.Acara pesta ritual nelayan ini disebut Maccera Tappareng atau upacara mensucikan danau yang ditandai dengan pemotongan sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan yang diikuti berbagai atraksi wisata yang sangat menarik. Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera Tappareng berpakai Baju Bodo (pakaian adat Orang Bugis). Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu hias, lomba permainan rakyat (lomba layangan tradisional, pemilihan anak dara dan kallolona Tanah Wajo), lomba menabuh lesung (padendang), pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya.

Acara pesta ritual nelayan ini disebut Maccera Tappareng atau upacara mensucikan danau dengan menggelar berbagai atraksi wisata yang sangat menarik. Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera Tappareng berpakai Baju Bodo (pakaian adat Orang Bugis). Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu hias, lomba permainan rakyat (lomba layangan tradisional, pemilihan anak dara dan kallolona Tanah Wajo), lomba menabuh lesung (padendang), pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya. Lomba perahu dayung merupakan tradisi yang turun temurun dan terpelihara di kalangan para nelayan. Sedangkan Maccera Tappareng merupakan bentuk kegiatan ritual yang dilaksanakan di atas Danau Tempe oleh masyarakat yang berdomisili di pinggir Danau Tempe, biasanya ditandai dengan pemotongan kurban/sapi yang dipimpin oleh seorang ketua nelayan, dan serentetan acara lainnya.

Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang
menjadi habitat satwa burung. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur
yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. Pengunjung dapat
berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke
Sungai Walanae, mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di
tengah danau.

Danau Tempe terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo. Tepatnya di
Kecamatan Tempe, sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae.
Dari sungai ini, perjalanan ke Dananu Tempe dapat ditempuh sekitar 30 menit
dengan menggunakan perahu motor (katinting). Perkampungan nelayan bernuansa
Bugis berjejer di sepanjang tepi danau. Nelayan yang menangkap ikan di tengah
danau seluas 13.000 hektare itu dengan latar belakang rumah terapung, merupakan
pemandangan yang sangat menarik.

Dari ketinggian, Danau Tempe tampak
bagaikan sebuah baskom raksasa yang diapit
oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan
Sidrap. Sambil bersantai di atas perahu,
wisatawan dapat menyaksikan terbitnya
matahari di ufuk Timur pada pagi hari dan
terbenam di ufuk Barat pad sore hari. Di
tengah danau, kita dapat menyaksikan beragam
satwa burun seperti Belibis yang menyambar
ikan-ikan yang muncul di atas permukaan air.


Danau ini memiliki species ikan air tawar yang jarang ditemui ditempat lain.
Konon, dasar danau ini menyimpan sumber makanan ikan, yang diperkirakan ada
kaitannya letak danau yang berada di atas lempengan dua benua, yaitu Australia
dan Asia. Di waktu malam, wisatawan dapat menginap di rumah terapung. Bersama
nelayan, kita dapat menyaksikan rembulan di malam hari yang menerangi Danau
Tempe sambil memancing ikan.
Sementara itu, para nelayan menangkap ikan diiringi dengan musik tradisional
yang dimainkan penduduk. Tanggal 23 Agustus setiap tahunnya, merupakan kalender
kegiatan pelaksanaan festival laut di Danau Tempe. Acara pesta ritual nelayan ini
disebut Maccera Tappareng atau upacara mensucikan danau dengan menggelar
berbagai atraksi wisata yang sangat menarik.
Pada hari perayaan Festival Danau Tempe ini, semua peserta upacara Maccera
Tappareng memakai baju Bodo (pakaian adat Orang Bugis). Acara ini juga
dimeriahkan dengan berbagai atraksi seperti lomba perahu tradisional, lomba perahu
hias, lomba permainan rakyat (lomba layangan tradisional, pemilihan anak dara
dan kallolona Tanah Wajo), lomba menabuh lesung (padendang), pagelaran musik
tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh waria, dan berbagai pagelaran
tradisional lainnya.



Lomba perahu dayung merupakan tradisi yang turun temurun dan terpelihara
di kalangan para nelayan. Sedangkan Maccera Tappareng merupakan bentuk kegiatan
ritual yang dilaksanakan di atas Danau Tempe oleh masyarakat yang berdomisili di
pinggir Danau Tempe, biasanya ditandai dengan pemotongan kurban/sapi yang
dipimpin oleh seorang ketua nelayan, dan serentetan acara lainnya.
Agro wisata sutra menjadi salah satu andalan di kabupaten ini. Tahap
penanaman murbei hingga proses pembuatan kain sutera sudah lama menjadi daya
tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Wajo.Lokasi
pembibitan dan penanaman murbei terletak pada beberapa desa di Kecamatan
Sabbangparu, sekitar 10 km sebelah Selatan Kota Sengkang, jalan poros menuju
Kabupaten Soppeng.


Di sini, pengunjung dapat menyaksikan proses penanaman murbei, cara
memelihara ulat sutera, proses pemintalan benang sutera, hingga cara menenun
kain sutera. Khusus produk sutera yang berupa kain, sarung, kemeja, dasi, dan
berbagai bentuk cinderamata dari kain sutera misalnya : kipas dan tas, dapat kita
saksikan di beberapa showroom sutera yang ada di Kota Sengkang. Di toko souvenir
itu tersedia berbagai macam warna maupun motif yang indah. Motif yang banyak
diminati masyarakat umumnya motif Bugis dan motif yang menyerupai ukiranukiran
Toraja.
514

___________________________________________________________

dari berbagai sumber :

http://www.indonesia.travel

http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Tempe

http://noertika.wordpress.com/wajo-my-home-land/

fotografer: Yusran & Ansar Makassar Terkini

___________________________________________________________

2 komentar:

  1. tulisan bagus, ini ditulis sendiri? kirim ke panyingkul..layak muat ini boss

    BalasHapus
  2. sayang foto liputannya sebagian unde sebagian over

    BalasHapus