Hasil Pencarian

Pencarian

Senin, 23 Juni 2008

Sekilas Sejarah tentang Benteng Rotterdam


Benteng Rotterdam.Di Makassar ada satu benteng besar yang berdiri megah, namanya Fort Rotterdam. Jangan bayangkan lokasi benteng ini berada jauh diluar kota, dan kita harus menghabiskan waktu sekian jam untuk duduk dimobil berkecepatan tinggi, karena lokasi benteng ini terletak didalam kota Makassar sehingga cukup mudah untuk mencapainya.
Benteng dengan halaman seluas dua kali Museum Fatahilah Jakarta ini letaknya didepan pelabuhan laut kota Makasar atau ditengah pusat perdagangan sentral kota. Apabila kita menginap di area seputar pantai Losari, maka jaraknya dalam kisaran radius 2 km-an saja. Dari jalan raya, Fort Rotterdam yang juga akrab disebut benteng Ujungpandang (nama lain dari Makassar) akan mudah dikenali karena sangat mencolok dengan arsitektur era 1600 an yang berbeda dengan rumah dan kantor diseputarnya. Temboknya hitam berlumut kokoh menjulang hampir setinggi 5 meter, dan pintu masuknya masih asli seperti masa jayanya. Dari ketinggian, bentuk benteng seperti bentuk totem penyu yang bersiap hendak masuk kedalam pantai.

Memasuki pintu utamanya yg berukuran kecil, kita akan segera disergap oleh nuansa masa lalu. Tembok yang tebal sangat kokoh, pintu kayu, gerendel kuno, akan terlihat jelas. Masuk ke benteng sebetulnya tidak dipungut bayaran, karena area didalam benteng tidak dijadikan museum cagar budaya yg kosong melompong. Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental karena masih dijumpai manusia berseliweran kian kemari. Karena area ini dipakai sebagai kantor, sehingga kebersihan dan kerapihan lingkungan disana masih terawat cukup baik.

Benteng ini awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Bahan baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap didalamnya. Ketika berpindah pada masa raja Gowa ke XIV, tembok benteng lantas diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras.


Kehadiran Belanda yang menguasai area seputar banda dan maluku, lantas menjadikan Belanda memutuskan untuk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC dapat dengan mudah masuk dan merapat disini. Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa didalam benteng tersebut dengan penguasa belanda Speelman. Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir. Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja menandatangani "perjanjian Bongaya" pada 18 Nov 1667.

Dikemudian hari Speelman memutuskan utk menetap disana dengan membangun kembali dan menata bangunan disitu agar disesuaikan dengan kebutuhan dalam selera arsitektur Belanda. Bentuk awal yg mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat. Nama benteng diubah pula menjadi Fort Rotterdam, tempat kelahiran Gub Jend Belanda Cornelis Speelman.

Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng, adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa. Perang Diponegoro yg berkobar diantara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam. Dia seorang diri ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh. Diruang itu ia disedikana sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Banyak kemudian yang meyakini bahwa Diponegoro wafat di Makassar, lalu ia dikuburkan disitu juga. Tapi ada pendapat lain mengatakan, mayat Diponegoro tidak ada di Makassar. Begitu ia wafat Belanda memindah ia ketempat rahasia agar tidak memicu letupan diantara pengikut fanatiknya di Jawa atau disitu.

13 komentar:

  1. oooo begitu pade sejarahnya benteng di..
    saya baru tahu..
    kapan2 saya ajak anakku jalan2 ke benteng deh..
    supaya tumbuh rasa nasionalismenya sejak kecil..

    BalasHapus
  2. "Kehadiran Belanda yang menguasai area seputar banda dan maluku, lantas menjadikan Belanda memutuskan untuk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC dapat dengan mudah masuk dan merapat disini. Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa didalam benteng tersebut dengan penguasa belanda Speelman. Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku dan dari darat dibantu oleh pasukan arungpalakka dari Bone, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir. Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja menandatangani “perjanjian Bongaya” pada 18 Nov 1667."

    Begitu kira2 lebih tepatnya

    BalasHapus
  3. Permisi...
    Boleh mampir dunk :)
    Salam kenal dulu ama empunya nih blog. Mas Ariel yah???..
    Nice blog and article.
    Oya, kenalin saya Ajie. Minta ijin permisi, kemarin kita sempat mengutip artikelnya tuk tambahan referensi bahan siaran di radio kita, spinRADIO ( http://radiospin.net ).
    Woke, salam persahabatan.
    Salam kenal juga tuk tmn lainnya yang singgah disini.
    Trimakasih ;)

    BalasHapus
  4. wow..! Menarik sekali artikel sejarahta' ini. Bolehji saya copy foto2 benteng rotterdam di blogta' ini ?
    Kalo boleh saya tau, dimana bisa saya temukan foto2 tua seperti ini ? Soalnya saya berencana membuat buku tentang Gowa dan Makassar.
    Terima kasih banyak sebelumnya.

    BalasHapus
  5. Thanks telah memuat banyak tentang Makassar. Semoga saudara yg dirantau bisa juga mengikuti perkembangan melalui blog ini.

    BalasHapus
  6. sejarax memang sdh bnr tp msh singkat krnfort benteg roterdam dibangun oleh raja goa ke IX dan dilanjutkan oleh putranya raja goa ke X
    trus klw mw msk ke dlm museum LA GALIGO bayar anak2 Rp.2.000,- dewasa Rp.3.000,-
    jd sejarahnya di perjelas lg dech

    BalasHapus
  7. ii jangki curhat cewekk ..
    ka di isseng ji kalo anatta ero' di patumbuu rasa nasionalismenya .. tena ja lakaluku ngerang .. !!

    BalasHapus
  8. knp sih mesti menggantung keyakinan orang kalo makam paknegran di ponegoro ada di sekitar benteng jadi gimana yg makam nya di kampung melayu di jln ponegoro lengkap pula ama istri nya dan anak serta pengikut nya huuuftt... jadi bingung dong ... yg mana yg benar...?????

    BalasHapus
  9. Pulkam lah atau kursus sebelum ke jakarta

    BalasHapus
  10. asiikkkee.
    makassar bisa tonk jheeeeeeeeeee..

    ''rock star makassar''

    BalasHapus
  11. makassar sejuta sejarah ,,,,

    aku bangga jd anak makassar,,

    ^rock star cinta dama^

    ryan aprilio sadega

    BalasHapus